Tehran, 11 Juni 2026 — Komando militer tertinggi Iran, Khatam al-Anbiya Central Headquarters, mengumumkan penutupan penuh Selat Hormuz mulai Kamis dini hari. Langkah dramatis ini menyusul serangan militer Amerika Serikat di wilayah selatan Iran, dekat jalur perairan strategis tersebut. Setiap kapal yang mencoba melintas kini dianggap sebagai target.
Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran seperti Press TV dan Tasnim, Khatam al-Anbiya menyatakan: “Semua lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz akan menjadi sasaran.” Selat tersebut dinyatakan “sepenuhnya tertutup” bagi semua jenis kapal, termasuk tanker minyak dan kapal komersial, akibat “ancaman keamanan” yang disebabkan agresi Amerika.
Penutupan ini merupakan respons langsung atas serangan udara AS yang menargetkan instalasi militer Iran di provinsi Hormozgan, termasuk area dekat Pulau Qeshm dan Sirik. Militer AS melalui CENTCOM mengklaim serangan tersebut sebagai tindakan “self-defense” terhadap ancaman dari radar pengawasan dan pertahanan udara Iran yang membahayakan pasukan dan kapal-kapalnya.
Iran mengecam serangan itu sebagai “agresi jahat” yang semakin menjauhkan prospek diplomasi. “Tindakan Amerika hanya akan membuat perdamaian semakin mustahil,” ujar seorang pejabat Iran seperti dikutip Al Jazeera.
Ini bukan kali pertama Iran mengambil langkah ekstrem di Selat Hormuz. Sepanjang 2026, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman ini telah berulang kali menjadi arena ketegangan, termasuk pengawasan ketat dan ancaman serupa pada April lalu. Selat Hormuz merupakan choke point krusial bagi perdagangan energi global, dengan sekitar 20-25% pasokan minyak dunia dan LNG melewatinya di masa normal.
Penutupan ini langsung memicu kekhawatiran pasar energi. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pasca-pengumuman, karena gangguan pasokan dari produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait berpotensi besar. Perusahaan pelayaran internasional sudah diimbau meningkatkan kewaspadaan, sementara asuransi kapal di wilayah tersebut diperkirakan melambung.
AS membantah klaim penutupan total. CENTCOM menyatakan kapal-kapal komersial masih dapat melintas di Selat Hormuz malam itu, meski situasi tetap tegang. Namun, laporan awal menyebut adanya insiden penembakan terhadap kapal yang dianggap melanggar oleh pasukan Iran.
Negara-negara Teluk dan mitra internasional seperti China, India, dan Eropa yang bergantung pada impor energi dari kawasan itu kini menghadapi risiko kenaikan harga bahan bakar dan inflasi. Analis memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan bisa memicu krisis energi global serupa era Tanker War 1980-an.
Sementara itu, Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat. Beberapa negara Arab dan sekutu AS mengecam langkah Iran sebagai “ancaman terhadap kebebasan navigasi maritim,” sementara Rusia dan China menyerukan de-eskalasi serta penghormatan kedaulatan Iran.
Presiden AS Donald Trump, seperti dikutip berbagai sumber, sempat mengancam akan “menghantam Iran sangat keras” jika provokasi berlanjut. Di sisi lain, Iran menyatakan siap mempertahankan wilayahnya dan mengaktifkan “front perlawanan” lebih luas.
Selat Hormuz, yang lebarnya hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempit, mudah dikendalikan dengan ranjau, rudal anti-kapal, dan kapal cepat IRGC. Namun, kemampuan Iran untuk mempertahankan penutupan total dalam waktu lama dipertanyakan, mengingat superioritas angkatan laut AS di kawasan.
Krisis ini menandai babak baru dalam konfrontasi Iran-AS yang telah berlangsung sejak awal 2026, setelah serangkaian serangan balasan dan upaya blokade. Bagi dunia, ini menjadi pengingat betapa rapuhnya stabilitas energi global ketika titik-titik strategis jatuh ke pusaran konflik geopolitik.
Situasi terus berkembang dengan cepat. Detik-detik berikutnya di perairan Teluk Persia berpotensi menentukan arah ekonomi dunia dalam beberapa pekan mendatang.