Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi banyak negara, Vietnam justru menunjukkan performa ekonomi yang mencuri perhatian. Negeri Naga Biru mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 9,01 persen secara kumulatif pada Januari-September 2026, menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi di kawasan Asia Tenggara.
Data tersebut dirilis oleh National Statistics Office (NSO) Vietnam. Pertumbuhan 9,01 persen itu menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Vietnam terus menguat sepanjang tahun, bahkan ketika dunia masih menghadapi berbagai tekanan mulai dari konflik geopolitik, perubahan arus perdagangan, kenaikan biaya energi hingga ketidakpastian rantai pasok global.
Laju pertumbuhan Vietnam bahkan semakin kencang pada kuartal III 2026. Ekonomi negara tersebut tumbuh 9,95 persen secara tahunan pada periode Juli-September, meningkat dibandingkan pertumbuhan 8,15 persen pada kuartal I dan 8,81 persen pada kuartal II.
Kinerja tersebut menunjukkan adanya akselerasi ekonomi dari kuartal ke kuartal. Pertumbuhan kuartal III juga menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan didorong oleh kuatnya ekspor serta investasi, khususnya pembangunan infrastruktur.
Jika dilihat berdasarkan sektor, industri dan konstruksi menjadi motor utama ekonomi Vietnam. Pada sembilan bulan pertama 2026, sektor tersebut tumbuh 11,21 persen dan memberikan kontribusi hampir separuh terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, yakni 49,62 persen.
Sementara itu, sektor jasa tumbuh 8,69 persen dan memberikan kontribusi 45,03 persen. Adapun sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,02 persen dengan kontribusi 5,35 persen. Struktur tersebut memperlihatkan kuatnya peran sektor industri dan jasa dalam menopang ekspansi ekonomi Vietnam.
Dorongan terhadap ekonomi Vietnam juga datang dari investasi dan perdagangan. Pada sembilan bulan pertama tahun ini, total investasi meningkat 16,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Arus investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) juga meningkat 12,1 persen menjadi sekitar US$21,1 miliar.
Sektor perdagangan bahkan menunjukkan lonjakan yang sangat besar. Ekspor Vietnam selama Januari-September 2026 meningkat 24,5 persen menjadi sekitar US$434,30 miliar. Namun, impor tumbuh lebih cepat, yakni 36,7 persen menjadi US$453,72 miliar, sehingga Vietnam mencatat defisit perdagangan sekitar US$19,42 miliar selama periode tersebut.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tingginya pertumbuhan Vietnam bukan tanpa tantangan. Ekonomi yang sangat bergantung pada perdagangan internasional juga membuat Vietnam rentan terhadap perubahan permintaan global, biaya energi, tekanan inflasi, serta kondisi rantai pasok.
Inflasi juga mulai menjadi perhatian. Pada September 2026, inflasi konsumen Vietnam tercatat 5,08 persen secara tahunan. Di sisi lain, produksi industri pada bulan yang sama tumbuh 16,7 persen. Angka tersebut menggambarkan kuatnya aktivitas manufaktur, tetapi sekaligus menunjukkan adanya tekanan permintaan dan biaya yang perlu diperhatikan pemerintah.
Performa Vietnam menjadi semakin menarik ketika dibandingkan dengan Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II 2026. Pada semester I 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,45 persen secara kumulatif.
Dengan demikian, terdapat perbedaan yang cukup lebar antara laju pertumbuhan Vietnam dan Indonesia. Namun, perbandingan tersebut harus dibaca secara hati-hati karena periode pengukuran dan struktur ekonomi kedua negara memiliki karakteristik yang berbeda.
Indonesia sendiri bukan berarti berada dalam kondisi ekonomi yang buruk. Pemerintah mencatat sejumlah indikator makroekonomi tetap terjaga. Inflasi September 2026 berada di level 3,28 persen dan masih dalam sasaran nasional, sementara neraca perdagangan Agustus mencatat surplus US$3,55 miliar.
Perbedaan laju pertumbuhan tersebut lebih menarik jika dilihat dari strategi pembangunan kedua negara. Vietnam dalam beberapa tahun terakhir semakin menempatkan industri manufaktur berorientasi ekspor dan investasi asing sebagai salah satu mesin utama pertumbuhan.
Model tersebut membuat Vietnam mampu menarik perusahaan global yang ingin membangun basis produksi di Asia. Ketika investasi masuk, kapasitas industri meningkat, ekspor bertambah, dan aktivitas ekonomi di berbagai sektor ikut terdorong.
Vietnam juga tengah meningkatkan investasi infrastruktur. Data NSO menunjukkan investasi keseluruhan pada sembilan bulan pertama 2026 meningkat 16,7 persen. Belanja pembangunan tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu menopang pertumbuhan ketika ekonomi global masih menghadapi ketidakpastian.
Namun, keberhasilan Vietnam juga membawa konsekuensi. Ketergantungan yang tinggi terhadap perdagangan dan investasi asing membuat negara tersebut harus terus menjaga daya saing industrinya. Defisit perdagangan yang melebar serta kenaikan harga energi menjadi salah satu risiko yang tidak bisa diabaikan.
Asian Development Bank sendiri memperkirakan pertumbuhan Vietnam sepanjang 2026 berada di kisaran 7,8 persen. Lembaga tersebut menilai prospek jangka pendek Vietnam masih kuat, tetapi memperingatkan bahwa pelemahan permintaan global, ketidakpastian eksternal, kenaikan harga energi, dan kondisi keuangan global yang lebih ketat dapat menjadi tantangan.
Artinya, pertumbuhan 9,01 persen dalam sembilan bulan bukan berarti Vietnam terbebas dari risiko. Justru tantangan berikutnya adalah bagaimana mempertahankan momentum tersebut tanpa memicu tekanan inflasi, ketidakseimbangan perdagangan, maupun persoalan kapasitas energi.
Bagi Indonesia, perbedaan ini menjadi bahan evaluasi penting. Dengan ukuran ekonomi dan jumlah penduduk yang jauh lebih besar, Indonesia memiliki pasar domestik yang kuat sebagai penopang pertumbuhan. Namun, tantangannya adalah bagaimana meningkatkan produktivitas, investasi, manufaktur, ekspor bernilai tambah, dan daya saing industri agar pertumbuhan tidak berhenti di kisaran 5 persen.
Perbandingan Indonesia dan Vietnam pada 2026 pada akhirnya bukan sekadar soal siapa yang mencatat angka pertumbuhan lebih tinggi. Di balik angka tersebut terdapat perbedaan struktur ekonomi, strategi investasi, kebijakan industri, kemampuan menarik modal asing, serta kemampuan masing-masing negara memanfaatkan perubahan rantai pasok global.
Vietnam saat ini sedang menikmati momentum pertumbuhan yang sangat kuat. Indonesia pun memiliki fondasi ekonomi yang relatif solid dan pasar domestik yang besar. Tantangan bagi Indonesia adalah mengubah kekuatan tersebut menjadi pertumbuhan yang lebih cepat dan berkualitas.
Dengan ekonomi Vietnam yang tumbuh 9,01 persen dalam sembilan bulan pertama 2026, kesenjangan laju pertumbuhan dengan Indonesia menjadi semakin terlihat. Pertanyaannya kini bukan hanya mengapa Vietnam mampu berlari lebih cepat, tetapi juga strategi apa yang perlu dilakukan Indonesia agar tidak sekadar bertahan di tengah perlambatan global, melainkan mampu menciptakan mesin pertumbuhan baru yang lebih kuat dan berkelanjutan.