Memuat berita

Dari Ribuan Donatur hingga Rp10,3 Miliar, Solidaritas untuk Korban Bencana Tunjukkan Kekuatan Gotong Royong

18 Agustus 2026
7

JAKARTA — Ketika bencana melanda dan sebagian masyarakat harus menghadapi kehilangan, keterbatasan akses, hingga kebutuhan dasar yang mendesak, solidaritas publik kembali menunjukkan kekuatannya.

Salah satu gerakan yang mencuri perhatian datang dari kreator konten Ferry Irwandi. Melalui penggalangan dana yang dilakukan secara digital dan siaran langsung di YouTube, Ferry mengajak masyarakat untuk membantu korban bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera.

Gerakan tersebut berkembang jauh melampaui perkiraan awal. Dalam beberapa jam pertama, dana yang terkumpul telah menembus miliaran rupiah. Pada Senin, 1 Desember 2025 malam, jumlahnya dilaporkan telah mencapai sekitar Rp3,6 miliar dan penggalangan dana masih terus berlangsung.

Angka itu kemudian terus bergerak naik. Dalam waktu sekitar 24 jam, total donasi mencapai Rp10,3 miliar. Penggalangan dana tersebut melibatkan puluhan ribu masyarakat yang menyumbangkan uang dengan nominal yang beragam.

Di balik miliaran rupiah yang terkumpul, terdapat cerita tentang kepedulian yang datang dari banyak lapisan masyarakat.

Sebagian orang mungkin menyumbangkan dalam jumlah besar. Namun, tidak sedikit pula yang memberikan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Nilai setiap donasi akhirnya menyatu menjadi sebuah kekuatan kolektif.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa solidaritas tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Satu kontribusi kecil, ketika dilakukan oleh banyak orang secara bersamaan, dapat berubah menjadi bantuan yang memiliki dampak jauh lebih luas.

Dalam konteks bencana, kecepatan menjadi salah satu faktor penting. Ketika akses menuju sejumlah wilayah terdampak mengalami kendala, kebutuhan warga tidak dapat menunggu terlalu lama. Bantuan berupa makanan, obat-obatan, perlengkapan dasar, hingga dukungan untuk membuka kembali akses menjadi kebutuhan yang harus segera dipenuhi.

Karena itu, besarnya partisipasi masyarakat dalam penggalangan dana tidak hanya menunjukkan kemurahan hati, tetapi juga memperlihatkan kemampuan masyarakat sipil untuk merespons keadaan darurat secara cepat.

Yang menarik dari penggalangan dana tersebut adalah bagaimana gerakan yang bermula dari ruang digital kemudian diteruskan ke lapangan.

Ferry tidak berhenti pada pengumpulan dana. Setelah kampanye selesai, ia bersama tim dan relawan bergerak menuju wilayah terdampak untuk membantu proses penyaluran.

Pada akhir Desember 2025, Ferry menyatakan bahwa dana Rp10,3 miliar yang dikumpulkan melalui kampanye bersama Kitabisa telah dialokasikan sepenuhnya kepada kebutuhan korban bencana. Penyaluran bantuan mencakup kebutuhan logistik hingga dukungan terhadap infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat di wilayah terdampak.

Bantuan tersebut bahkan mencakup kebutuhan yang bersifat jangka lebih panjang, termasuk pemasangan panel surya dan pengadaan alat berat untuk mendukung pemulihan di sejumlah lokasi.

Langkah tersebut menjadi bagian penting dari proses penanganan pascabencana. Sebab, bantuan kemanusiaan tidak berhenti ketika kebutuhan makanan dan obat-obatan terpenuhi. Pemulihan akses, fasilitas umum, energi, serta aktivitas ekonomi masyarakat juga menjadi bagian dari proses untuk mengembalikan kehidupan warga secara bertahap.

Bencana memperlihatkan bahwa Indonesia bukan hanya sebuah wilayah yang luas secara geografis, tetapi juga sebuah masyarakat yang dapat saling terhubung ketika menghadapi persoalan kemanusiaan.

Masyarakat yang berada jauh dari lokasi bencana mungkin tidak dapat datang langsung membawa bantuan. Namun, teknologi memungkinkan kepedulian tersebut bergerak melewati jarak.

Dalam kasus penggalangan dana Ferry Irwandi, media sosial dan platform digital menjadi jembatan antara masyarakat yang ingin membantu dan warga yang membutuhkan pertolongan.

Kecepatan penyebaran informasi membuat seseorang yang berada di kota lain dapat mengetahui kondisi korban dalam hitungan menit. Dari sana, kepedulian dapat berubah menjadi tindakan nyata melalui donasi.

Inilah wajah lain dari gotong royong di era digital.

Jika dahulu bantuan masyarakat mungkin bergerak melalui komunitas lokal, organisasi sosial, atau jaringan relawan, kini satu unggahan dan satu siaran langsung dapat menghubungkan ribuan orang dalam waktu singkat.

Besarnya dana yang terkumpul tentu membawa tanggung jawab yang tidak kalah besar. Kepercayaan publik harus dijaga melalui penyaluran yang transparan, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Donasi bukan sekadar uang yang berpindah dari satu rekening ke rekening lainnya. Di balik setiap rupiah terdapat kepercayaan dari masyarakat yang berharap kontribusinya benar-benar membantu orang yang terdampak.

Karena itu, laporan mengenai penggunaan dana dan perkembangan penyaluran menjadi bagian penting dari sebuah gerakan kemanusiaan.

Dalam aksi Ferry Irwandi, proses penyaluran kemudian dilaporkan kepada publik. Pada akhir Desember 2025, Ferry menyampaikan bahwa seluruh dana Rp10,3 miliar telah dialokasikan. Ia juga menyatakan tidak menggunakan dana donasi untuk kepentingan operasional pribadinya.

Pada akhirnya, angka Rp10,3 miliar bukan sekadar pencapaian sebuah kampanye penggalangan dana.

Angka tersebut merupakan hasil dari ribuan keputusan individu untuk peduli.

Ada orang yang mungkin hanya mampu memberikan sedikit. Ada pula yang memberikan dalam jumlah lebih besar. Namun, semuanya bertemu dalam tujuan yang sama: memastikan masyarakat yang sedang menghadapi bencana tidak merasa sendirian.

Peristiwa ini sekaligus menunjukkan bahwa kekuatan masyarakat sipil masih menjadi bagian penting dalam menghadapi situasi darurat. Pemerintah, relawan, organisasi sosial, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat umum memiliki peran masing-masing dalam membantu proses penanganan dan pemulihan bencana.

Indonesia memang luas. Pulau-pulau dipisahkan laut, sementara masyarakat hidup dalam kondisi dan latar belakang yang berbeda.

Namun, ketika bencana datang, jarak tersebut tidak selalu menjadi batas.

Dari sebuah layar komputer atau telepon genggam, seseorang dapat memilih untuk peduli. Dari sebuah donasi kecil, lahir bantuan yang nilainya miliaran rupiah. Dan dari kepedulian banyak orang, terbentuk sebuah pesan sederhana: mereka yang sedang menghadapi bencana tidak sendirian.

Itulah makna solidaritas yang sesungguhnya—bukan hanya tentang seberapa besar yang diberikan, melainkan tentang kesediaan untuk berbagi ketika orang lain sedang membutuhkan.

Tag

Memuat tag berita...