Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), TNI Angkatan Udara, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus mengatasi penurunan ketersediaan air baku di Waduk Sepaku, Ibu Kota Nusantara (IKN).
Operasi tersebut dilakukan di tengah meningkatnya perhatian terhadap kondisi cuaca dan lingkungan di Kalimantan Timur. Fenomena El Nino dan panjangnya periode Hari Tanpa Hujan (HTH) membuat sebagian wilayah mengalami kondisi yang lebih kering sehingga meningkatkan risiko munculnya titik panas dan kebakaran.
Kondisi tersebut tidak hanya berpotensi mengancam kawasan hutan dan lahan, tetapi juga dapat berdampak terhadap ketersediaan air baku. Waduk Sepaku menjadi salah satu infrastruktur penting dalam mendukung kebutuhan air di kawasan IKN sehingga penurunan debit air perlu diantisipasi.
Melalui OMC, pemerintah berupaya memanfaatkan potensi awan hujan yang masih tersedia untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah yang menjadi sasaran. Teknologi modifikasi cuaca dilakukan dengan menyemai bahan tertentu ke dalam awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan.
Penyemaian awan difokuskan di kawasan IKN dan Kabupaten Berau. Pemilihan wilayah tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer dan potensi pertumbuhan awan hujan yang tersedia.
Pelaksanaan operasi juga dilakukan sebelum kondisi cuaca memasuki periode yang diperkirakan lebih kering. Momentum tersebut dinilai penting karena keberadaan awan yang dapat disemai menjadi salah satu faktor penentu dalam pelaksanaan OMC.
Selain membantu meningkatkan curah hujan, operasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat ganda. Hujan yang turun dapat membantu membasahi lahan dan mengurangi kondisi kering yang menjadi salah satu faktor pendukung terjadinya karhutla.
Di sisi lain, tambahan curah hujan juga diharapkan membantu menjaga ketersediaan air baku di Waduk Sepaku. Ketersediaan air menjadi salah satu aspek penting bagi keberlanjutan berbagai aktivitas di kawasan IKN.
Kolaborasi lintas instansi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan operasi tersebut. BMKG berperan dalam menyediakan informasi dan analisis meteorologi untuk menentukan kondisi yang mendukung pelaksanaan modifikasi cuaca.
OIKN memiliki kepentingan langsung terhadap kondisi lingkungan dan ketersediaan air di kawasan IKN. Sementara itu, BNPB dan pemerintah daerah berperan dalam mendukung upaya penanggulangan bencana serta kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla.
TNI AU turut mendukung aspek operasional melalui penyediaan dukungan penerbangan untuk kegiatan penyemaian awan. Sinergi tersebut diperlukan agar operasi dapat dilakukan secara cepat dan menyesuaikan dengan dinamika atmosfer yang berubah-ubah.
Ancaman karhutla di Kalimantan Timur menjadi perhatian karena kondisi kering yang berlangsung dalam periode panjang dapat membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar. Ketika kebakaran terjadi, proses pemadaman juga dapat menjadi lebih sulit apabila tidak tersedia cukup air dan kondisi angin mendukung penyebaran api.
Karena itu, OMC diposisikan sebagai salah satu langkah mitigasi untuk mengurangi risiko, bukan sebagai satu-satunya solusi dalam menghadapi karhutla. Pencegahan kebakaran, patroli, deteksi dini, serta kesiapan pemadaman tetap diperlukan untuk mengantisipasi titik api.
Pengelolaan air juga membutuhkan strategi jangka panjang. Penambahan curah hujan melalui OMC dapat membantu dalam kondisi tertentu, tetapi ketersediaan air baku tetap dipengaruhi oleh pola cuaca, kondisi daerah tangkapan air, serta tingkat penggunaan air.
Pelaksanaan operasi di tengah masih tersedianya potensi pertumbuhan awan menunjukkan pentingnya kecepatan pemerintah dalam merespons perubahan kondisi cuaca. Jika periode kering semakin panjang, kesempatan untuk melakukan penyemaian awan juga dapat semakin terbatas.
Dengan operasi yang dilakukan secara terkoordinasi, pemerintah berharap risiko karhutla di kawasan IKN dan sekitarnya dapat ditekan sekaligus membantu mempertahankan ketersediaan air baku di Waduk Sepaku.
Langkah tersebut juga menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi dampak perubahan kondisi iklim dan fenomena cuaca ekstrem. Pemerintah perlu memastikan bahwa pembangunan IKN berjalan beriringan dengan pengelolaan lingkungan dan sumber daya air yang berkelanjutan.
OMC yang digelar BMKG bersama OIKN, TNI AU, BNPB, dan Pemprov Kalimantan Timur menjadi salah satu bentuk respons cepat menghadapi ancaman kekeringan dan karhutla. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada kondisi atmosfer serta koordinasi seluruh pihak di lapangan.
Di tengah ancaman musim kering, upaya menjaga pasokan air sekaligus mencegah meluasnya kebakaran menjadi pekerjaan yang harus dilakukan secara bersamaan. Karena itu, pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen pendukung dalam menjaga ketahanan lingkungan dan sumber daya air di kawasan IKN.