Memuat berita

SBY Ingatkan Pemimpin Bijak Hadapi Transisi Geopolitik Dunia: Kekuatan Harus Disertai Pengendalian Diri

21 Agustus 2026
7

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan negara dan para pemimpin agar menyikapi perubahan geopolitik dunia secara bijak. Menurutnya, dunia tengah berada dalam masa transisi besar yang ditandai dengan semakin kuatnya kecenderungan multipolar, sementara tatanan internasional baru yang stabil belum sepenuhnya terbentuk.

Pesan tersebut disampaikan SBY dalam pidatonya pada The 5th Biennial International Conference on International Relations (ICON-IR)

SBY mengikuti kegiatan tersebut dari jarak jauh karena sedang menjalani pengobatan di Amerika Serikat. Dalam pidatonya, ia mengajak para pemimpin dan negara untuk memahami perubahan lanskap global secara hati-hati agar tidak salah mengambil langkah di tengah ketidakpastian geopolitik.

Menurut SBY, dunia saat ini bergerak menuju sistem yang semakin multipolar

Situasi tersebut, kata SBY, perlu diwaspadai karena politik kekuasaan tetap menjadi bagian yang sulit dilepaskan dari hubungan antarnegara. Perubahan keseimbangan kekuatan dapat memunculkan persaingan kepentingan, sehingga setiap negara perlu memahami lingkungan strategisnya secara lebih cermat.

SBY menilai berakhirnya era pasca-Perang Dingin belum sepenuhnya menghasilkan tatanan internasional baru yang stabil. Dunia justru menghadapi periode transisi yang ditandai ketidakpastian, perubahan hubungan antarnegara, serta munculnya berbagai pusat kekuatan baru.

Dalam kondisi tersebut, setiap negara tetap memiliki kewajiban untuk menjaga kepentingan nasionalnya. Kedaulatan, keamanan, kesejahteraan masyarakat, dan kepentingan strategis nasional harus tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kebijakan luar negeri maupun langkah menghadapi dinamika global.

Namun, SBY mengingatkan bahwa upaya mempertahankan kepentingan nasional tidak boleh dilakukan tanpa batas. Kekuatan yang dimiliki negara maupun pemimpin harus digunakan secara bertanggung jawab dan disertai pengendalian diri.

Menurutnya, kemampuan menggunakan kekuasaan bukan satu-satunya ukuran kepemimpinan. Justru, kebijaksanaan dalam menentukan kapan kekuasaan digunakan menjadi bagian penting dari kepemimpinan yang kuat.

Pemimpin yang kuat bukan hanya ditentukan oleh kemampuannya bertindak, tetapi juga oleh kebijaksanaan untuk mengetahui kapan menggunakan kekuasaan, kapan mendengar, dan kapan membuka ruang kompromi,

Pernyataan tersebut menekankan pentingnya keseimbangan antara ketegasan dan kemampuan membangun dialog. Dalam situasi geopolitik yang semakin kompleks, keputusan yang hanya mengandalkan kekuatan berpotensi memperbesar ketegangan apabila tidak disertai perhitungan terhadap konsekuensi yang lebih luas.

SBY juga memperluas prinsip tersebut dari level kepemimpinan kepada negara secara keseluruhan. Menurut dia, negara harus mampu mempertimbangkan secara matang setiap tindakan yang akan diambil, termasuk menilai apakah suatu langkah memang benar-benar diperlukan dan sesuai dengan kepentingan nasional.

Pendekatan tersebut menjadi semakin penting ketika dunia menghadapi perubahan besar dalam hubungan kekuatan global. Negara tidak hanya dituntut memiliki kemampuan untuk bertindak, tetapi juga kemampuan membaca situasi, menentukan prioritas, dan menghindari keputusan yang justru dapat memperburuk posisi strategisnya.

Bagi Indonesia, kondisi geopolitik yang berubah tersebut membutuhkan kebijakan yang mampu menjaga kepentingan nasional sekaligus tetap membuka ruang kerja sama dengan negara lain. Posisi Indonesia sebagai negara dengan kepentingan di kawasan Indo-Pasifik membuat kemampuan menjaga keseimbangan menjadi semakin penting.

Pesan SBY pada forum internasional tersebut pada akhirnya mengarah pada satu prinsip: kekuatan perlu diimbangi dengan kebijaksanaan

Di tengah dunia yang semakin multipolar dan belum menemukan tatanan internasional baru yang benar-benar stabil, SBY menilai kepemimpinan yang kuat bukanlah tentang seberapa sering kekuasaan digunakan, melainkan tentang kemampuan mengetahui kapan harus bertindak, kapan mendengar, dan kapan mencari kompromi.

Tag

Memuat tag berita...