Memuat berita

Sumber Air Menyusut, Pemadaman Karhutla di 6 Provinsi Prioritas Hadapi Tantangan Berat

26 Agustus 2026
5

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap tantangan baru dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas. Sumber air yang mulai menyusut dan lokasinya semakin jauh dari titik kebakaran membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit, baik melalui jalur darat maupun operasi udara menggunakan helikopter water bombing.

Enam provinsi yang menjadi fokus penanganan pemerintah meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Wilayah-wilayah tersebut menjadi perhatian karena aktivitas karhutla masih membutuhkan penanganan intensif, terutama ketika kondisi cuaca dan lingkungan membuat api mudah berkembang.

Kondisi sumber air menjadi persoalan penting di tengah operasi pemadaman. Menyusutnya debit air membuat petugas di lapangan harus mencari lokasi pengambilan air yang lebih jauh dari titik kebakaran.

Jarak sumber air yang semakin jauh berdampak langsung terhadap efektivitas operasi. Dalam pemadaman darat, petugas membutuhkan pasokan air yang cukup untuk menjaga proses pemadaman tetap berlangsung. Sementara dalam operasi udara, helikopter water bombing juga sangat bergantung pada ketersediaan sumber air untuk melakukan pengisian sebelum kembali menuju lokasi kebakaran.

BNPB terus mengoptimalkan Satgas Darat dan Satgas Udara untuk menghadapi kondisi tersebut. Operasi dilakukan melalui berbagai metode, mulai dari patroli, pemadaman langsung, water bombing, hingga operasi modifikasi cuaca.

Patroli menjadi bagian penting dalam upaya mendeteksi titik api sedini mungkin. Semakin cepat titik kebakaran ditemukan, semakin besar peluang petugas melakukan penanganan sebelum api meluas dan menyulitkan proses pemadaman.

Pemadaman darat tetap menjadi salah satu metode utama dalam penanganan karhutla. Personel di lapangan diarahkan untuk mendatangi lokasi kebakaran dan melakukan pemadaman secara langsung, terutama pada area yang dapat dijangkau melalui jalur darat.

Sementara itu, water bombing digunakan sebagai dukungan untuk menangani titik kebakaran yang sulit dijangkau personel. Helikopter membawa air dari sumber yang tersedia kemudian menjatuhkannya ke area yang terbakar untuk membantu menekan kobaran api.

Namun, metode tersebut tidak dapat berdiri sendiri. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menegaskan bahwa water bombing bukan merupakan metode utama dalam penanganan karhutla.

Menurutnya, operasi udara berfungsi mendukung pemadaman dari darat, terutama ketika terdapat titik kebakaran yang sulit dijangkau. Karena itu, efektivitas water bombing sangat bergantung pada koordinasi dengan tim pemadam di lapangan serta ketersediaan sumber air.

Persoalan sumber air menjadi semakin penting ketika musim kering berlangsung dan cadangan air di sejumlah lokasi mengalami penyusutan. Jika sumber air berada terlalu jauh, waktu yang dibutuhkan helikopter untuk mengambil air dan kembali ke lokasi kebakaran menjadi lebih panjang.

Kondisi tersebut dapat mengurangi frekuensi penerbangan dalam periode tertentu. Padahal, pada titik kebakaran yang berkembang cepat, kecepatan respons menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah api meluas.

Selain operasi pemadaman, BNPB juga mengerahkan operasi modifikasi cuaca. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi meteorologis serta kebutuhan di lapangan sehingga intervensi cuaca dapat dilakukan pada waktu dan wilayah yang dinilai memungkinkan.

Operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu upaya pendukung untuk meningkatkan potensi hujan di wilayah yang membutuhkan. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang dapat dimodifikasi.

Dengan berbagai metode tersebut, pemerintah berupaya menggabungkan pencegahan, deteksi dini, pemadaman darat, dukungan operasi udara, serta intervensi cuaca dalam satu penanganan terpadu. Pendekatan tersebut diperlukan karena karakteristik karhutla berbeda-beda di setiap wilayah.

Enam provinsi prioritas memiliki tantangan geografis dan kondisi lahan yang tidak sama. Sebagian titik kebakaran berada di kawasan yang sulit dijangkau, sementara kondisi sumber air yang semakin terbatas menambah kompleksitas operasi.

Karena itu, koordinasi antara Satgas Darat dan Satgas Udara menjadi sangat penting. Informasi mengenai lokasi titik api, kondisi medan, arah angin, hingga ketersediaan sumber air harus terus diperbarui agar sumber daya yang dikerahkan dapat digunakan secara efektif.

BNPB juga menekankan bahwa penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada kemampuan memadamkan api setelah kebakaran terjadi. Pencegahan dan patroli tetap diperlukan untuk mengurangi kemungkinan munculnya titik api baru.

Di tengah keterbatasan sumber air, kecepatan mendeteksi dan menangani kebakaran sejak awal menjadi semakin penting. Api yang berhasil dikendalikan ketika masih kecil akan membutuhkan sumber daya yang jauh lebih sedikit dibandingkan kebakaran yang sudah meluas.

Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan membutuhkan strategi yang terus disesuaikan dengan situasi lapangan.

Dengan mengoptimalkan pemadaman darat, operasi udara, patroli, water bombing, dan modifikasi cuaca, pemerintah berupaya menjaga agar kebakaran tidak semakin meluas. Namun, menyusutnya sumber air menjadi pengingat bahwa tantangan karhutla semakin kompleks dan membutuhkan respons cepat, koordinasi kuat, serta dukungan sarana yang memadai.

Tag

Memuat tag berita...