Memuat berita

Perusahaan Hashim Djojohadikusumo Menangkan Natuna D-Alpha, Komitmen Migas Capai Rp1,83 Triliun

22 September 2026
8

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan enam pemenang lelang Wilayah Kerja (WK) minyak dan gas bumi (migas) Tahap I Tahun 2026. Dari enam blok tersebut, satu nama langsung menjadi sorotan, yakni PT Nations Petroleum yang berada di bawah Arsari Group milik pengusaha Hashim Djojohadikusumo, setelah perusahaan tersebut memenangkan lelang WK Natuna D-Alpha.

Penetapan enam pemenang lelang itu tertuang dalam Surat Keputusan Menteri ESDM Nomor 108.K/MG.4/DJM/2026 tertanggal 17 September 2026. Pemerintah mencatat total komitmen pasti untuk tiga tahun pertama dari keenam WK mencapai US$141,512 juta, ditambah bonus tanda tangan sebesar US$1,6 juta.

Dari keseluruhan pemenang, Nations Petroleum menjadi perusahaan dengan nilai komitmen pasti terbesar. Untuk WK Natuna D-Alpha, perusahaan tersebut menyatakan komitmen pasti selama tiga tahun pertama senilai US$103,309 juta. Dengan asumsi kurs Rp17.730 per dolar AS, nilainya setara sekitar Rp1,83 triliun.

Selain komitmen investasi tersebut, Nations Petroleum juga diwajibkan membayar bonus tanda tangan sebesar US$200.000 atau sekitar Rp3,55 miliar dengan asumsi kurs yang sama. Nilai komitmen perusahaan itu menyumbang sebagian besar dari total investasi pasti yang dijanjikan seluruh pemenang lelang Tahap I 2026.

Komitmen yang diajukan Nations Petroleum juga bukan sekadar kajian awal. Berdasarkan dokumen Kementerian ESDM, perusahaan akan menjalankan tiga paket studi geologi dan geofisika atau G&G Study, akuisisi dan pemrosesan data seismik 3D seluas 591 kilometer persegi, satu Pilot Unit Design and Engineering, serta tiga paket CO2 Integrated Study.

Selain itu terdapat komitmen untuk satu kegiatan Manufacturing, Procurement and Construction, dua paket EPC Design Cost, satu sumur appraisal, satu sumur eksplorasi, serta satu paket operation, multi-mode testing and monitoring. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa pemerintah mensyaratkan kegiatan eksplorasi dan persiapan pengembangan yang cukup komprehensif untuk WK Natuna D-Alpha.

Nations Petroleum sendiri merupakan salah satu entitas usaha di bawah Arsari Group, kelompok usaha yang didirikan dan dipimpin Hashim Djojohadikusumo. Hashim merupakan adik Presiden Prabowo Subianto. Sejumlah laporan bisnis menyebut kemenangan Natuna D-Alpha menjadi salah satu langkah penting dalam penguatan portofolio Arsari Group di sektor hulu migas.

Mengacu pada profil Arsari Group yang dikutip sejumlah media, Nations Petroleum bergerak di sektor migas dengan fokus pada teknologi ekstraksi dan pemulihan untuk meningkatkan efisiensi serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya energi. Setelah memperoleh WK Natuna D-Alpha, perusahaan kini menghadapi tahap pekerjaan yang jauh lebih besar, terutama terkait eksplorasi, pengujian teknologi, dan persiapan pengembangan lapangan.

Yang membuat Natuna D-Alpha menjadi perhatian bukan hanya karena nilai komitmen investasinya, tetapi juga karena sejarah dan potensi sumber daya yang dikaitkan dengan wilayah kerja tersebut. Natuna D-Alpha merupakan wilayah kerja lepas pantai di Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, dan sejak lama dikenal sebagai salah satu kawasan dengan potensi gas bumi besar di Indonesia.

Pemerintah Kabupaten Natuna dalam laporan kinerjanya menyebut struktur Natuna D-Alpha telah ditemukan sejak 1973. Dokumen tersebut juga mencatat perkiraan sumber daya gas yang sangat besar, sementara pengembangannya selama bertahun-tahun menghadapi berbagai tantangan teknis dan keekonomian.

Catatan Kementerian ESDM menunjukkan bahwa sejarah pengelolaan Natuna D-Alpha telah berlangsung selama puluhan tahun. Kontrak kerja sama pertama untuk blok tersebut ditandatangani pada 8 Januari 1980 antara Pertamina dan Esso Natuna dengan jangka waktu 30 tahun. Dalam perkembangannya, sebagian participating interest Pertamina dialihkan kepada Mobil Natuna sehingga ExxonMobil menjadi pemegang kepentingan terbesar dalam kontrak tersebut.

Namun, pengembangan lapangan tersebut tidak berjalan sesuai rencana awal. Pemerintah pada 2009 menjelaskan bahwa kontrak lama Natuna D-Alpha berakhir setelah kontraktor tidak memenuhi ketentuan terkait komitmen pengembangan berdasarkan studi kelayakan yang dipersyaratkan dalam kontrak. Upaya pemerintah untuk melanjutkan pengembangan kemudian menghadapi proses negosiasi dan kajian baru.

Salah satu persoalan teknis utama yang kerap disebut dalam pembahasan Natuna D-Alpha adalah tingginya kandungan karbon dioksida atau CO2 dalam gas. Kondisi tersebut membuat pengembangan lapangan membutuhkan teknologi pemrosesan dan pengelolaan CO2 yang lebih kompleks dibandingkan lapangan gas dengan karakteristik yang lebih sederhana.

Persoalan kandungan CO2 itu pula yang membuat komitmen Nations Petroleum dalam lelang kali ini mencantumkan tiga paket CO2 Integrated Study. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memahami karakteristik reservoir sekaligus menentukan pendekatan teknis yang dapat digunakan untuk mengolah sumber daya gas dari wilayah kerja tersebut.

Besarnya potensi gas Natuna D-Alpha telah membuat wilayah tersebut berulang kali menjadi perhatian dalam pembahasan ketahanan energi nasional. Sejumlah sumber menyebut potensi sumber daya gas hingga 222 triliun kaki kubik atau trillion cubic feet (TCF), meskipun angka potensi sumber daya tidak sama dengan jumlah cadangan yang secara teknis dan ekonomis dapat diproduksikan.

Karena itu, kemenangan dalam lelang belum berarti Natuna D-Alpha langsung memasuki tahap produksi. Nations Petroleum masih harus menjalankan berbagai komitmen eksplorasi dan kegiatan teknis sebelum pemerintah dapat menilai kelayakan pengembangan lapangan secara lebih menyeluruh.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menyatakan Nations Petroleum akan mengejar persetujuan rencana pengembangan atau Plan of Development (PoD) Natuna D-Alpha pada 2027 atau 2028. Ia menyebut perusahaan akan segera melakukan pengeboran setelah memenangkan lelang tersebut.

Dalam rencana awal pengembangannya, Nations Petroleum juga disebut akan menguji teknologi 3S atau super sonic separation yang dikembangkan oleh ENGO Engineering dari Rusia. Teknologi tersebut ditujukan untuk membantu proses pemisahan dan pengolahan gas, termasuk menghadapi persoalan kandungan CO2 yang menjadi salah satu tantangan utama Natuna D-Alpha. Rencana tersebut masih berada dalam tahap persiapan dan pengujian teknologi.

Di sisi lain, kemenangan Nations Petroleum menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk kembali mendorong aktivitas eksplorasi migas nasional. Kementerian ESDM menyatakan penawaran WK merupakan salah satu instrumen untuk membuka peluang penemuan sumber daya dan cadangan baru guna menjaga keberlanjutan produksi migas serta mendukung kebutuhan energi Indonesia pada masa mendatang.

Selain Natuna D-Alpha, lima wilayah kerja lain yang ditetapkan pemenangnya adalah Sapukala yang dimenangkan Eni Indonesia Limited, Bengara II oleh Sinopec International Energy Investment (HK) Holdings Limited, Pesut Mahakam dan Puri oleh PT Timur Hijau Investama, serta Rupat oleh Cinda Energy (Hong Kong) Limited.

Untuk Sapukala, Eni Indonesia Limited memiliki komitmen pasti US$8 juta. Bengara II yang dimenangkan Sinopec mencatat komitmen US$16,5 juta. Sementara Pesut Mahakam dan Puri yang dimenangkan PT Timur Hijau Investama masing-masing memiliki komitmen US$7,403 juta dan US$3,35 juta. Adapun Cinda Energy untuk WK Rupat berkomitmen US$2,95 juta.

Jika seluruh nilai tersebut dijumlahkan, komitmen pasti enam pemenang mencapai US$141,512 juta. Dengan kurs Rp17.730 per dolar AS, angka itu setara sekitar Rp2,51 triliun. Nilai tersebut belum termasuk bonus tanda tangan yang secara keseluruhan mencapai US$1,6 juta atau sekitar Rp28,37 miliar.

Pemerintah berharap seluruh pemenang dapat memenuhi komitmen yang telah disepakati, terutama kegiatan eksplorasi. Kementerian ESDM menilai masuknya investasi baru di sektor hulu penting untuk memperluas kegiatan pencarian cadangan migas sekaligus menjaga peluang peningkatan produksi pada tahun-tahun mendatang.

Untuk Natuna D-Alpha, tantangannya tentu lebih besar. Selain wilayah operasi berada di lepas pantai, pengembangan lapangan juga harus menghadapi karakteristik gas dengan kandungan CO2 tinggi dan kebutuhan teknologi pengolahan khusus. Dengan komitmen awal lebih dari US$103 juta, tahap berikutnya akan menjadi penentu apakah potensi besar Natuna D-Alpha dapat diterjemahkan menjadi proyek migas yang layak secara teknis dan ekonomis.

Kemenangan Nations Petroleum dengan nilai komitmen yang jauh lebih besar dibandingkan pemenang lima blok lainnya sekaligus menempatkan Natuna D-Alpha kembali dalam pusat perhatian industri energi nasional. Setelah puluhan tahun berada dalam berbagai tahap kajian dan negosiasi, blok yang dikenal memiliki potensi gas besar itu kini memasuki babak baru di bawah pengelolaan PT Nations Petroleum.

Namun perjalanan menuju produksi masih panjang. Eksplorasi, pengeboran, pengujian teknologi, evaluasi keekonomian, hingga persetujuan Plan of Development akan menjadi tahapan penting sebelum sumber daya Natuna D-Alpha benar-benar dapat dikembangkan secara komersial. Dengan demikian, kemenangan lelang ini menjadi titik awal baru, bukan akhir dari perjalanan panjang pengembangan salah satu wilayah gas paling dikenal di Indonesia.

Tag

Memuat tag berita...