Memuat berita

Malaysia Semai Awan di Perbatasan Indonesia, Siap Bantu Padamkan Karhutla dan Antisipasi El Nino

26 Agustus 2026
5

Malaysia mulai melakukan operasi modifikasi cuaca melalui penyemaian awan di kawasan sekitar perbatasan dengan Indonesia sebagai bagian dari upaya mengantisipasi dan membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah tersebut dilakukan setelah Malaysia memperoleh persetujuan Indonesia untuk melintasi wilayah udara Indonesia dalam operasi penyemaian awan.

Menteri Sumber Daya Alam dan Keberlanjutan Lingkungan Hidup Malaysia Arthur Joseph Kurup mengatakan, persetujuan tersebut diberikan Indonesia untuk memungkinkan Malaysia melakukan operasi penyemaian awan di wilayah yang berada di sepanjang perbatasan kedua negara.

"Indonesia telah memberikan persetujuan dan izin resmi bagi Malaysia untuk melintasi wilayah udara Indonesia guna melakukan operasi penyemaian awan yang melibatkan daerah-daerah di sepanjang perbatasan kedua negara," kata Arthur dalam pernyataan tertulis yang dikutip CNA dan The Star, Selasa (25/8/2026).

Operasi tersebut melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Malaysia atau Nadma bersama badan meteorologi Malaysia, MetMalaysia. Pelaksanaan penyemaian awan dikoordinasikan dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk memastikan kegiatan di wilayah udara perbatasan berjalan sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati.

Kerja sama lintas negara ini menjadi penting karena asap akibat kebakaran hutan dan lahan tidak mengenal batas administratif. Kebakaran yang terjadi di satu wilayah berpotensi menimbulkan dampak terhadap kawasan negara tetangga, terutama ketika arah angin membawa asap melintasi perbatasan.

Langkah Malaysia juga menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan koordinasi regional, khususnya ketika kondisi cuaca semakin kering dan risiko kebakaran meningkat. Penyemaian awan diharapkan dapat membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan di kawasan yang membutuhkan, meskipun efektivitas operasi sangat bergantung pada ketersediaan dan kondisi awan yang dapat disemai.

Selain membahas operasi modifikasi cuaca, Arthur juga telah berkomunikasi dengan Menteri Lingkungan Hidup RI Jumhur Hidayat. Pembicaraan tersebut mencakup perkembangan cuaca, fenomena El Nino, serta ancaman kebakaran hutan dan lahan yang dihadapi kedua negara.

Arthur mengatakan kedua negara perlu meningkatkan langkah pencegahan dan penanganan dini, terutama menghadapi potensi penguatan El Nino pada Oktober 2026 yang bertepatan dengan periode monsun barat daya.

Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor penting dalam risiko kebakaran hutan dan lahan. Cuaca yang lebih kering dapat membuat vegetasi dan lahan, terutama kawasan gambut, lebih mudah terbakar dan mempercepat penyebaran api apabila tidak segera ditangani.

Di tengah upaya tersebut, muncul pula sorotan dari aktivis Malaysia mengenai dugaan keterlibatan perusahaan asal Malaysia dalam pembukaan perkebunan di lahan gambut Indonesia. Isu tersebut menambah kompleksitas persoalan karhutla karena penanganan kebakaran tidak hanya berkaitan dengan pemadaman, tetapi juga pengawasan terhadap aktivitas pemanfaatan lahan dan pencegahan kebakaran sejak awal.

Malaysia menyatakan siap membantu Indonesia apabila bantuan tambahan dibutuhkan. Arthur menegaskan, apabila Pemerintah Indonesia mengajukan permintaan khusus, usulan tersebut akan dibawa ke kabinet Malaysia untuk mendapatkan keputusan lebih lanjut.

Kesiapan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama Indonesia dan Malaysia dalam menghadapi ancaman karhutla yang berpotensi berdampak lintas batas. Bantuan dapat diberikan sesuai kebutuhan dan mekanisme yang berlaku antara kedua negara.

Arthur juga mengapresiasi langkah Indonesia dalam meningkatkan sumber daya untuk menangani kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah Indonesia sendiri telah meningkatkan pengerahan personel untuk mempercepat penanganan karhutla di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya memerintahkan pengerahan ribuan personel TNI dan Polri untuk memperkuat operasi pemadaman. Personel tersebut diterjunkan bersama unsur terkait untuk menangani titik-titik kebakaran sekaligus memperkuat upaya pencegahan agar api tidak semakin meluas.

Kerja sama penyemaian awan antara Malaysia dan Indonesia memperlihatkan bahwa ancaman karhutla semakin membutuhkan pendekatan yang melampaui batas negara. Ketika kebakaran terjadi di wilayah perbatasan, koordinasi mengenai udara, cuaca, pemadaman, hingga pertukaran informasi menjadi bagian penting dari respons bersama.

Bagi Indonesia, dukungan Malaysia dapat menjadi tambahan kapasitas dalam menghadapi kondisi cuaca yang kurang menguntungkan. Sementara bagi Malaysia, langkah tersebut juga merupakan bentuk antisipasi terhadap potensi dampak asap lintas batas yang selama ini menjadi salah satu persoalan lingkungan di kawasan Asia Tenggara.

Dengan potensi perubahan kondisi cuaca pada beberapa bulan mendatang, kedua negara kini dituntut tidak hanya memperkuat pemadaman ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi juga meningkatkan pencegahan dan deteksi dini.

Penyemaian awan menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan ketika kondisi atmosfer mendukung. Namun, upaya tersebut tetap perlu berjalan bersama patroli darat, penegakan hukum, pengelolaan lahan gambut, pemantauan titik panas, serta kesiapan personel dan peralatan pemadam.

Kerja sama Indonesia-Malaysia pada akhirnya menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan respons terpadu. Bukan hanya hujan yang dikejar, tetapi juga pencegahan sumber api dan penguatan koordinasi agar kebakaran tidak kembali berkembang menjadi bencana yang berdampak luas hingga melewati batas negara.

Tag

Memuat tag berita...