Memuat berita

Kreatif! Siswa SMAN 6 Tasikmalaya Sulap Limbah MBG Jadi Pakan Ayam

09 Oktober 2026
3

Kreativitas siswa SMAN 6 Tasikmalaya, Jawa Barat, menghadirkan inovasi sederhana yang membawa manfaat bagi lingkungan sekaligus mendukung ketahanan pangan. Melalui program bertajuk Kandang Happy Chicken Sixtas, para siswa mengolah sisa makanan dari kantin sekolah menjadi pakan ayam bergizi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung produksi telur.

Program ini menjadi contoh bagaimana limbah makanan yang selama ini berpotensi menumpuk dan mencemari lingkungan dapat diubah menjadi sesuatu yang bernilai guna. Alih-alih langsung dibuang, sisa makanan kantin dikumpulkan dan diolah melalui proses fermentasi sebelum dijadikan bahan baku pakan ayam.

Dalam proses pengolahannya, limbah makanan tersebut dicampur dengan bahan lain, seperti dedak dan tepung magot. Campuran itu kemudian diolah menjadi pelet pakan agar lebih mudah diberikan kepada ayam. Pemanfaatan bahan-bahan tersebut menjadi bagian penting dari upaya siswa untuk mengembangkan alternatif pakan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekolah.

Melalui program Kandang Happy Chicken Sixtas, para siswa tidak hanya belajar memelihara ayam, tetapi juga memahami hubungan antara pengelolaan sampah organik, pemanfaatan sumber daya, dan produksi pangan. Kegiatan ini menggabungkan pembelajaran praktis dengan upaya membangun kebiasaan hidup yang lebih ramah lingkungan.

Hasilnya pun menarik perhatian. Berdasarkan informasi program tersebut, ayam yang dipelihara mampu menghasilkan sekitar 5–10 butir telur setiap hari. Produksi ini menjadi salah satu hasil yang dapat diamati siswa sekaligus bahan pembelajaran mengenai pemeliharaan ternak dan pengelolaan pangan.

Meski demikian, jumlah telur yang dihasilkan dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk jumlah ayam produktif, usia, kondisi kesehatan, kualitas pakan, serta lingkungan kandang. Karena itu, keberlanjutan program perlu ditunjang pemantauan rutin terhadap kesehatan ayam, kualitas bahan pakan, dan hasil produksi.

Lebih dari sekadar kegiatan peternakan di lingkungan sekolah, inovasi ini juga mengajarkan pentingnya mengurangi sampah sejak dari sumbernya. Sisa makanan yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan bau dan meningkatkan beban pengangkutan sampah. Dengan pemanfaatan yang tepat, sebagian limbah organik dapat dialihkan menjadi bahan yang berguna.

Namun, pengolahan sisa makanan untuk pakan ternak tetap perlu memperhatikan keamanan. Bahan yang digunakan harus dipilah, tidak tercampur sampah berbahaya atau bahan kimia, serta diproses dengan cara yang sesuai agar tidak membahayakan kesehatan ayam. Komposisi pakan juga perlu memenuhi kebutuhan nutrisi ternak sehingga produktivitas tetap terjaga.

Inisiatif siswa SMAN 6 Tasikmalaya ini memperlihatkan bahwa upaya mendukung ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dengan teknologi mahal atau proyek berskala besar. Pemanfaatan limbah yang dilakukan secara terencana dapat menjadi langkah nyata untuk mengurangi pemborosan sekaligus mengenalkan prinsip ekonomi sirkular, yakni mengubah bahan yang semula dianggap tidak berguna menjadi sumber daya baru.

Program tersebut juga memberikan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Siswa dapat mempelajari proses pengolahan bahan, perawatan ternak, pencatatan hasil produksi, hingga pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Nilai kemandirian, tanggung jawab, kerja sama, dan kepedulian terhadap alam pun dapat tumbuh melalui kegiatan yang dilakukan secara langsung.

Jika dikembangkan secara konsisten, Kandang Happy Chicken Sixtas berpotensi menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk menghadirkan program serupa sesuai kondisi masing-masing. Dengan pendampingan yang tepat, pengelolaan limbah makanan dapat menjadi bagian dari pendidikan lingkungan sekaligus praktik sederhana untuk memperkenalkan produksi pangan berkelanjutan.

Kreativitas para siswa ini menjadi pengingat bahwa solusi atas persoalan sampah dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Dari sisa makanan kantin, lahir sebuah pembelajaran yang tidak hanya menghasilkan telur, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan dan mendukung ketahanan pangan bisa berjalan beriringan.

Tag

Memuat tag berita...