Musim kemarau kembali membawa persoalan lama bagi warga Cimendo, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sumber air yang selama ini menjadi tumpuan warga mulai menyusut, membuat masyarakat harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Kondisi paling terlihat di Kali Cihoe. Dasar sungai yang biasanya dialiri air kini sebagian besar mengering. Aliran yang tersisa hanya berupa jalur kecil berwarna keruh yang bergerak di antara bebatuan.
Di tengah kondisi tersebut, warga membuat sumur-sumur sederhana di dasar kali yang telah mengering. Lubang-lubang dengan kedalaman kurang dari satu meter itu dibuat untuk menampung air yang masih tersisa di bawah permukaan tanah.
Bagi warga, keberadaan air dalam jumlah terbatas tersebut menjadi sangat berarti. Ketika sumber air lain mulai berkurang, dasar Kali Cihoe kembali menjadi tempat yang didatangi untuk mendapatkan air bagi kebutuhan sehari-hari.
Fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Cimendo merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Bogor yang setiap tahun menghadapi persoalan krisis air bersih ketika musim kemarau datang. Kondisi tersebut memperlihatkan betapa rentannya sebagian masyarakat terhadap perubahan ketersediaan air saat curah hujan menurun.
Krisis air bersih di wilayah Jonggol juga telah dilaporkan terjadi di sejumlah titik lain sepanjang musim kemarau 2026. BPBD Kabupaten Bogor sebelumnya menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang mengalami penurunan debit sumur dan sumber mata air akibat minimnya hujan. (Indoraya Today
Pada Agustus 2026, misalnya, ribuan warga di Desa Sukanegara, Kecamatan Jonggol, dilaporkan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. BPBD Kabupaten Bogor mencatat 2.862 jiwa dari 815 kepala keluarga terdampak akibat berkurangnya sumber air di tengah minimnya hujan dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan air bersih bukan sekadar masalah ketika sungai mengering. Berkurangnya curah hujan secara berkepanjangan dapat menurunkan debit sumber mata air dan membuat sumur warga kehilangan cadangan air. Akibatnya, kebutuhan dasar seperti memasak, minum, mandi, mencuci, dan sanitasi menjadi semakin sulit dipenuhi.
Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari sumber air alternatif, situasi tersebut dapat membuat aktivitas sehari-hari semakin berat. Warga harus menghemat penggunaan air sekaligus mencari sumber yang masih dapat dimanfaatkan.
Pemandangan warga menggali sumur dangkal di dasar kali menjadi gambaran nyata bagaimana masyarakat beradaptasi ketika sumber air utama mulai menghilang. Air yang didapat pun harus digunakan dengan sehemat mungkin karena tidak ada kepastian kapan hujan kembali turun dan mengisi sumber-sumber air yang mengering.
Persoalan serupa juga terjadi di berbagai wilayah lain di Kabupaten Bogor. Sejumlah laporan sepanjang musim kemarau menunjukkan pemerintah daerah harus melakukan distribusi air bersih untuk membantu warga yang sumur dan sumber mata airnya mulai mengering.
Karena itu, penanganan krisis air tidak cukup hanya dilakukan dengan mendistribusikan air ketika sumber warga sudah mengering. Pemerintah juga perlu memperkuat langkah jangka panjang, seperti menjaga daerah resapan, meningkatkan kapasitas penyimpanan air, serta mendorong konservasi sumber daya air.
Kali Cihoe yang menyusut menjadi pengingat bahwa kemarau bukan hanya persoalan cuaca panas. Bagi warga Cimendo, kemarau berarti harus kembali mendatangi dasar sungai, menggali tanah, dan mencari setiap tetes air yang masih tersisa demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.