JAKARTA — Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menilai rangkaian bencana yang terjadi di Indonesia tidak semestinya hanya dipandang sebagai cobaan yang harus diterima masyarakat. Menurutnya, negara memiliki tanggung jawab untuk mencegah bencana yang dapat diantisipasi sekaligus meminimalkan dampak dan korban ketika bencana terjadi.
Anies menyoroti sejumlah bencana yang belakangan terjadi di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga gempa bumi yang menimbulkan kerusakan. Ia menilai penanganan bencana tidak cukup hanya dilakukan setelah kejadian, tetapi harus dimulai dari langkah pencegahan dan mitigasi.
Menurut Anies, pemerintah memiliki peran penting dalam memastikan risiko bencana dapat ditekan semaksimal mungkin. Hal tersebut mencakup kesiapan menghadapi ancaman, perlindungan terhadap kelompok rentan, hingga kemampuan pemerintah merespons keadaan darurat secara cepat.
Salah satu persoalan yang disorot Anies adalah karhutla yang terjadi secara masif di wilayah Kalimantan dalam beberapa waktu terakhir. Kebakaran tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga menimbulkan persoalan bagi masyarakat yang harus beraktivitas di tengah kepungan asap.
Kabut asap akibat kebakaran berpotensi mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat. Anak-anak, lanjut usia, hingga pekerja yang harus beraktivitas di luar ruangan menjadi kelompok yang membutuhkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.
Dampaknya juga dapat merembet ke sektor pendidikan. Tebalnya kabut asap dapat membuat aktivitas belajar mengajar terganggu dan membatasi kegiatan anak-anak di luar ruangan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada kawasan hutan yang terbakar, tetapi dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Anies kemudian menyoroti bencana gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurutnya, masyarakat di wilayah terdampak masih harus menghadapi ketidakpastian dan kecemasan akibat potensi gempa susulan.
Situasi pascagempa, kata Anies, membutuhkan kehadiran negara yang tidak hanya berfokus pada distribusi bantuan, tetapi juga memberikan rasa aman kepada masyarakat. Informasi yang jelas, kesiapan evakuasi, tempat perlindungan, serta pelayanan bagi warga terdampak menjadi bagian penting dalam penanganan kondisi tersebut.
Anies menilai cara pandang terhadap bencana perlu diperluas. Masyarakat memang dapat memandang bencana sebagai cobaan, tetapi dari perspektif pemerintahan, terdapat tanggung jawab untuk melihat faktor risiko yang dapat dikurangi melalui kebijakan dan tindakan konkret.
Dalam konteks karhutla, misalnya, pencegahan dapat dilakukan melalui pengawasan kawasan rawan, deteksi dini, pengendalian sumber api, serta penegakan hukum apabila kebakaran disebabkan oleh pelanggaran. Sementara dalam menghadapi gempa bumi, mitigasi dapat dilakukan melalui penguatan kesiapsiagaan masyarakat, standar bangunan, sistem peringatan, dan jalur evakuasi.
Pandangan tersebut menempatkan pemerintah bukan hanya sebagai pihak yang bertugas memberikan bantuan setelah bencana terjadi, tetapi juga sebagai institusi yang memiliki tanggung jawab mengurangi risiko sebelum bencana menimbulkan korban lebih besar.
Bencana alam memang tidak selalu dapat dicegah. Gempa bumi, misalnya, merupakan fenomena geologi yang tidak dapat dihentikan. Namun, jumlah korban dan besarnya kerusakan dapat dipengaruhi oleh tingkat kesiapsiagaan, kualitas bangunan, sistem mitigasi, kecepatan evakuasi, serta respons pemerintah dan masyarakat.
Sementara itu, sejumlah bencana seperti karhutla juga memiliki faktor manusia dan tata kelola yang dapat ditelusuri. Karena itu, pencegahan, pengawasan, serta penegakan hukum menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko kejadian berulang.
Pesan Anies pada akhirnya menekankan bahwa bencana tidak cukup dijawab dengan belasungkawa dan bantuan setelah kejadian. Negara dituntut hadir sejak sebelum bencana terjadi, melalui kebijakan pencegahan, mitigasi yang kuat, perlindungan kelompok rentan, serta respons cepat agar masyarakat tidak menanggung dampak yang sebenarnya dapat diminimalkan.