Suasana duka menyelimuti kamp pengungsi Nuseirat, Gaza, ketika warga Palestina menggelar pemakaman massal bagi 41 jenazah yang baru ditemukan dari bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan Israel. Jenazah para korban ditemukan hampir tiga tahun setelah perang di Gaza pecah pada Oktober 2023.
Prosesi pemakaman berlangsung pada Selasa (29/9/2026) dan dihadiri ratusan kerabat serta warga yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Jenazah dibungkus kain kafan putih dan sejumlah di antaranya ditutupi bendera Palestina sebelum dibawa menuju tempat pemakaman.
Menurut laporan Reuters, 41 jenazah tersebut ditemukan dari reruntuhan sebuah bangunan permukiman di Nuseirat yang terkena serangan pada awal perang. Proses pencarian dan pengangkatan jenazah dilakukan setelah kondisi memungkinkan tim penyelamat kembali menjangkau lokasi yang sebelumnya sulit diakses.
Bagi keluarga korban, pemakaman itu menjadi momen yang membawa perasaan bercampur. Di satu sisi, mereka kembali dihadapkan pada kenyataan kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Namun di sisi lain, ditemukannya jenazah memberikan kepastian setelah bertahun-tahun mereka menunggu tanpa mengetahui secara pasti keberadaan anggota keluarga mereka.
Salah seorang warga, Areej Farajallah, 36 tahun, mengatakan kepada Reuters bahwa suaminya, Samir, termasuk di antara korban yang akhirnya dapat dimakamkan. Ia sebelumnya hanya memiliki sebagian kecil dari sisa jasad suaminya yang ditemukan dari reruntuhan. Bagi keluarga, keberadaan makam memberikan tempat untuk mengenang dan berziarah setelah selama ini tidak memiliki kepastian mengenai nasib orang yang mereka cintai.
Kasus tersebut menggambarkan persoalan yang jauh lebih besar di Gaza. Otoritas setempat memperkirakan lebih dari 8.000 jenazah masih tertimbun di bawah reruntuhan berbagai bangunan yang hancur selama perang. Banyak keluarga hingga kini masih menunggu proses pencarian untuk mengetahui nasib kerabat mereka yang dinyatakan hilang.
Proses evakuasi jenazah berlangsung sangat sulit karena luasnya kerusakan infrastruktur dan keterbatasan peralatan berat. Tim penyelamat membutuhkan alat berat untuk membongkar beton, mengangkat puing dan menjangkau bagian bangunan yang runtuh tanpa membahayakan pekerja maupun warga di sekitar lokasi.
Badan pertahanan sipil Gaza menyebut kebutuhan alat berat masih menjadi salah satu hambatan utama dalam proses pencarian. Tim penyelamat membutuhkan ekskavator, buldoser dan alat pemuat berat untuk mempercepat pengangkatan reruntuhan sekaligus mencari jenazah yang masih tertinggal di bawah bangunan.
Skala kehancuran membuat persoalan tersebut tidak sekadar menjadi operasi pencarian korban. Jutaan ton puing bangunan menutupi berbagai wilayah Gaza, sementara sebagian reruntuhan masih berpotensi menyimpan jenazah, bahan berbahaya, maupun persenjataan yang belum meledak. Laporan terbaru memperkirakan sekitar 61 juta ton puing harus ditangani di Gaza, dengan ribuan jenazah diduga masih berada di bawahnya.
Penemuan 41 jenazah di Nuseirat juga memperlihatkan bagaimana dampak perang terus dirasakan keluarga korban meskipun waktu telah berlalu. Bagi mereka yang kehilangan anggota keluarga, proses berduka tidak selalu berakhir ketika serangan berhenti. Kepastian mengenai keberadaan jenazah dan tempat pemakaman menjadi bagian penting untuk dapat memberikan penghormatan terakhir.
Sejumlah keluarga bahkan harus menghadapi kenyataan bahwa yang ditemukan bukan jasad utuh, melainkan sisa-sisa tubuh yang hanya dapat diidentifikasi secara terbatas. Namun, bagi keluarga korban, keberadaan makam tetap memiliki arti besar karena memberikan tempat nyata untuk mengenang orang yang telah mereka kehilangan.
Sementara itu, proses pencarian korban masih terus berlangsung di berbagai wilayah Gaza. Otoritas setempat menyebut ratusan jenazah telah berhasil dikeluarkan dari bawah reruntuhan sejak gencatan senjata pada Oktober 2025, tetapi ribuan lainnya masih belum ditemukan.
Pemakaman massal di Nuseirat akhirnya bukan hanya menjadi prosesi untuk menguburkan 41 korban. Peristiwa tersebut menjadi gambaran tentang panjangnya proses pemulihan Gaza setelah kehancuran besar selama perang, sekaligus menunjukkan bahwa bagi ribuan keluarga lainnya, penantian untuk menemukan anggota keluarga yang hilang masih belum berakhir.
Di tengah reruntuhan yang masih memenuhi berbagai kawasan, setiap jenazah yang berhasil ditemukan membawa satu kepastian bagi sebuah keluarga. Setelah bertahun-tahun menunggu, setidaknya mereka akhirnya memiliki tempat untuk meletakkan bunga, memanjatkan doa, dan mengenang orang yang mereka cintai.