NTT — Aktivitas kegempaan di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih belum sepenuhnya mereda setelah gempa kuat mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi gempa susulan masih berpotensi terjadi dalam tiga hingga empat pekan mendatang. Hingga Selasa (18/8/2026), BMKG mencatat sebanyak 2.119 gempa susulan atau aftershock setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores. Jumlah tersebut menunjukkan aktivitas seismik di wilayah terdampak masih cukup tinggi. Masyarakat pun diminta tetap waspada, terutama mereka yang berada di wilayah yang mengalami kerusakan bangunan akibat gempa utama.
Gempa utama yang mengguncang Flores pada Sabtu pagi menjadi pemicu rangkaian gempa susulan dalam beberapa hari terakhir. BMKG terus memantau perkembangan aktivitas kegempaan melalui jaringan sensor yang tersebar di berbagai wilayah. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui pola gempa susulan sekaligus memberikan informasi kepada masyarakat dan pemerintah sebagai dasar dalam penanganan bencana. Prediksi gempa susulan hingga tiga sampai empat pekan ke depan merupakan bagian dari karakteristik aktivitas setelah gempa besar. Umumnya, frekuensi gempa susulan akan berangsur menurun seiring waktu, meski kekuatan dan waktu terjadinya masing-masing gempa tidak dapat dipastikan secara tepat. Oleh Karena itu, masyarakat tetap diminta mengikuti informasi resmi BMKG dan tidak mempercayai prediksi gempa yang tidak memiliki dasar ilmiah.
Wijayanto menjelaskan gempa yang mengguncang Flores merupakan gempa dangkal yang dipicu aktivitas tektonik di zona Flores Back-Arc. Gempa tersebut terjadi akibat mekanisme pergerakan naik atau thrust fault. Mekanisme ini berkaitan dengan aktivitas tektonik di kawasan tersebut dan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan gempa memiliki dampak signifikan. Gempa utama juga dilaporkan berdampak pada munculnya tsunami di wilayah sekitarnya. Kondisi tersebut membuat penanganan pascabencana menjadi semakin kompleks. Selain menghadapi kerusakan akibat guncangan, masyarakat di wilayah pesisir juga harus menghadapi dampak gelombang tsunami.
Dengan masih tingginya aktivitas gempa susulan, masyarakat di wilayah terdampak diimbau tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan. Bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa utama sebaiknya tidak langsung digunakan sebelum dinyatakan aman. Gempa susulan dapat kembali mengguncang bangunan yang struktur atau fondasinya telah melemah. Masyarakat juga perlu memastikan jalur evakuasi tetap terbuka dan mengetahui lokasi aman apabila kembali terjadi guncangan kuat. Informasi mengenai aktivitas gempa sebaiknya diperoleh melalui kanal resmi BMKG dan pemerintah daerah. Masyarakat juga diharapkan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi karena dapat menimbulkan kepanikan di tengah situasi darurat.
Catatan 2.119 gempa susulan dalam kurun beberapa hari menunjukkan bahwa sistem tektonik di sekitar Flores masih mengalami proses penyesuaian setelah gempa utama. Meski gempa susulan diperkirakan masih akan terjadi hingga beberapa pekan, masyarakat tidak perlu hidup dalam kepanikan. Kewaspadaan, kesiapan menghadapi kemungkinan guncangan, serta kepatuhan terhadap arahan petugas menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko. BMKG bersama instansi terkait akan terus memantau perkembangan aktivitas kegempaan di NTT. Informasi terbaru mengenai gempa, potensi tsunami, maupun perkembangan aktivitas seismik akan menjadi bagian penting dalam upaya melindungi masyarakat terdampak.