Memuat berita

Bitcoin Kembali Tembus US$80.000, Optimisme Pasar Kripto Bangkit Setelah 3 Tahun

26 Agustus 2026
6

Bitcoin kembali menembus level psikologis US$80.000 pada perdagangan Selasa (25/8/2026), menandai kebangkitan aset kripto terbesar dunia setelah sebelumnya mengalami tekanan. Kenaikan tersebut menghidupkan kembali optimisme investor sekaligus membawa Bitcoin ke level tertinggi sejak pertengahan Mei.

Mengutip Bloomberg, harga Bitcoin sempat naik 2,9 persen menjadi US$81.257 dalam perdagangan di pasar Asia. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 15 Mei lalu, ketika pasar kripto masih berada dalam fase penguatan sebelum kemudian mengalami tekanan.

Penguatan Bitcoin kali ini juga tidak datang secara tiba-tiba. Dalam tujuh hari hingga Minggu, harga Bitcoin tercatat melonjak sekitar 23 persen. Kenaikan mingguan tersebut menjadi yang terbesar dalam kurun waktu sekitar tiga tahun, menunjukkan perubahan signifikan pada sentimen investor terhadap aset digital tersebut.

Lonjakan harga juga terjadi bersamaan dengan meningkatnya aktivitas perdagangan berbasis leverage. Serangkaian sinyal bullish mendorong investor untuk kembali mengambil posisi, sementara pergerakan harga yang cepat memicu likuidasi posisi taruhan leverage dalam nilai yang mencapai miliaran dolar.

Meski kembali melewati US$80.000, Bitcoin masih memiliki jarak cukup jauh dari rekor tertingginya. Harga tertinggi sepanjang masa Bitcoin berada di kisaran US$126.000 yang dicapai pada Oktober. Dengan demikian, level saat ini masih berada jauh di bawah puncak tersebut meskipun tren pemulihan mulai terlihat.

Salah satu faktor yang kembali menjadi perhatian pasar adalah menguatnya narasi debasement trade. Strategi tersebut mengacu pada investasi pada aset yang dianggap mampu mempertahankan atau meningkatkan nilainya ketika mata uang mengalami pelemahan daya beli.

Bitcoin sejak awal kelahirannya memang kerap diposisikan oleh sebagian pelaku pasar sebagai aset alternatif terhadap risiko penurunan nilai mata uang fiat. Narasi tersebut semakin kuat ketika investor mulai mencemaskan kebijakan fiskal, inflasi, serta kemungkinan meningkatnya likuiditas dalam sistem keuangan.

Sentimen terhadap Bitcoin turut dipengaruhi perkembangan kebijakan pemerintah Amerika Serikat. Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengumumkan rencana peningkatan pembelian kembali obligasi pemerintah atau bond buyback.

Kebijakan tersebut diarahkan untuk membantu menurunkan imbal hasil obligasi jangka panjang. Namun, langkah itu juga memunculkan reaksi berbeda di pasar karena berpotensi memberikan tekanan terhadap dolar AS.

Pelemahan dolar kemudian menjadi salah satu katalis bagi aset seperti Bitcoin dan emas yang sering dipandang investor sebagai alternatif ketika nilai mata uang AS mengalami tekanan.

"Latar belakang makroekonomi menjadi lebih mendukung setelah rencana Departemen Keuangan untuk memperluas pembelian kembali obligasi jangka panjang membantu melemahkan dolar dan menghidupkan kembali narasi debasement trade yang menguntungkan Bitcoin serta emas," ujar Lacie Zhang, analis riset di Bitget Wallet.

Di sisi lain, tidak semua pelaku pasar memandang kebijakan tersebut secara positif. Kelompok skeptis menilai rencana pembelian kembali obligasi justru menunjukkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump belum mengambil langkah yang cukup agresif untuk mengatasi persoalan defisit anggaran AS.

Perdebatan mengenai kondisi fiskal Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan investor global. Kebijakan pemerintah terkait utang, imbal hasil obligasi, dolar, dan likuiditas dapat memberikan dampak luas terhadap berbagai kelas aset, termasuk pasar kripto.

Bitcoin sangat sensitif terhadap perubahan sentimen makroekonomi. Ketika dolar melemah dan investor mencari aset alternatif, permintaan terhadap Bitcoin dapat meningkat. Sebaliknya, penguatan dolar dan kondisi keuangan yang lebih ketat berpotensi memberikan tekanan terhadap aset berisiko.

Kenaikan Bitcoin dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bagaimana cepatnya sentimen pasar kripto dapat berubah. Setelah sebelumnya berada dalam tekanan, aset digital tersebut kini kembali menjadi perhatian investor seiring munculnya kombinasi sentimen makroekonomi dan momentum teknikal yang lebih positif.

Namun, reli yang sangat cepat juga membawa risiko volatilitas tinggi. Kenaikan sebesar 23 persen dalam satu pekan menunjukkan besarnya perubahan posisi investor, sekaligus membuka peluang terjadinya koreksi apabila sentimen positif mulai mereda.

Karena itu, level US$80.000 kini menjadi salah satu titik penting yang akan diperhatikan pelaku pasar. Kemampuan Bitcoin mempertahankan level tersebut dapat menjadi indikator apakah penguatan kali ini merupakan awal dari tren pemulihan yang lebih panjang atau sekadar reli jangka pendek.

Untuk sementara, Bitcoin kembali berhasil merebut perhatian pasar global. Setelah terpuruk dan jauh dari rekor tertingginya, mata uang kripto tersebut kini kembali melampaui US$80.000 dengan dukungan narasi pelemahan dolar dan debasement trade.

Pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan kebijakan ekonomi Amerika Serikat, arah dolar, kondisi likuiditas global, serta keberlanjutan minat investor terhadap aset berisiko. Satu hal yang jelas, Bitcoin kembali menunjukkan bahwa volatilitasnya tetap menjadi salah satu daya tarik sekaligus risiko terbesar di pasar kripto.

Tag

Memuat tag berita...