Memuat berita

Trotoar Matraman Jadi Sorotan Usai Pembangunan LRT Jakarta, Warganet Pertanyakan Ruang Pejalan Kaki

13 Oktober 2026
3

Kondisi trotoar di Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur, menjadi sorotan warganet setelah beredar unggahan yang membandingkan kondisi kawasan tersebut sebelum dan sesudah pembangunan LRT Jakarta. Di tengah padatnya arus kendaraan, ruang yang tersedia bagi pejalan kaki dinilai terbatas, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kenyamanan dan keselamatan masyarakat yang berjalan kaki.

Dalam unggahan yang beredar di media sosial, lalu lintas di kawasan Matraman terlihat dipadati kendaraan bermotor. Sementara itu, kondisi jalur pedestrian menjadi perhatian karena sejumlah warganet menilai ruang bagi pejalan kaki tampak menyempit atau bahkan tidak tersedia di beberapa titik.

Perbandingan kondisi sebelum dan sesudah pembangunan LRT Jakarta pun memicu beragam tanggapan. Warganet mempertanyakan apakah perubahan tata ruang jalan di kawasan tersebut telah memberikan ruang yang memadai bagi pejalan kaki, mengingat trotoar merupakan fasilitas penting bagi masyarakat yang beraktivitas di perkotaan.

Sorotan tersebut tidak hanya berkaitan dengan lebar trotoar, tetapi juga menyangkut bagaimana ruang jalan dibagi antara kendaraan bermotor, transportasi umum, dan pejalan kaki. Di kawasan perkotaan dengan arus lalu lintas yang padat, ketersediaan jalur pedestrian yang aman menjadi kebutuhan penting, terutama bagi warga yang berjalan menuju halte, tempat kerja, sekolah, maupun fasilitas umum lainnya.

Sebelumnya, Dinas Bina Marga DKI Jakarta menyampaikan bahwa pembangunan trotoar di Jalan Matraman Raya dilakukan dengan mengedepankan konsep complete street. Konsep ini bertujuan agar jalan dapat digunakan oleh berbagai kelompok pengguna, tanpa mengabaikan kebutuhan pejalan kaki. Rencana pembangunan yang diumumkan pada September 2023 tersebut mencakup trotoar sepanjang kurang lebih 2,65 kilometer untuk kedua sisi jalan. 

Dalam laporan lain pada Oktober 2023, proyek revitalisasi trotoar di Jalan Matraman Raya disebut mencakup perbaikan saluran serta pelebaran jalur pedestrian. Trotoar yang direncanakan memiliki lebar sekitar dua hingga tiga meter itu ditujukan untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan pejalan kaki.

Di sisi lain, pembangunan LRT Jakarta Fase 1B rute Velodrome–Manggarai turut memengaruhi pengaturan lalu lintas di kawasan Matraman. Pada April hingga Mei 2026, Dinas Perhubungan DKI Jakarta mengumumkan rekayasa lalu lintas untuk mendukung pekerjaan konstruksi di sekitar Jalan Matraman dan simpang menuju Jalan Salemba serta Jalan Pramuka. 

Aktivitas pembangunan dan kepadatan kendaraan sebelumnya juga pernah memicu persoalan keselamatan pejalan kaki. Pada Januari 2026, ANTARA melaporkan keresahan warga akibat sejumlah pengendara sepeda motor yang melintas di atas trotoar ketika lalu lintas di Jalan Matraman Raya mengalami kemacetan. Kondisi tersebut membuat pejalan kaki merasa tidak aman dan terpaksa menepi untuk menghindari kendaraan. 

Meski demikian, perbandingan yang beredar di media sosial belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh trotoar di Jalan Matraman menyempit atau hilang akibat pembangunan LRT. Kondisi setiap titik perlu diperiksa secara langsung dengan mempertimbangkan desain jalan, tahapan pekerjaan konstruksi, serta penataan fasilitas pedestrian yang berlaku di lokasi tersebut.

Evaluasi terhadap kondisi trotoar menjadi penting agar pembangunan transportasi publik tidak mengurangi aksesibilitas bagi masyarakat yang berjalan kaki. Proyek infrastruktur di perkotaan idealnya tidak hanya memperhatikan kelancaran kendaraan dan pengembangan moda transportasi, tetapi juga memastikan tersedianya jalur pedestrian yang aman, nyaman, dan berkesinambungan.

Bagi pejalan kaki, trotoar bukan sekadar pelengkap jalan, melainkan ruang untuk bergerak tanpa harus bersaing langsung dengan kendaraan bermotor. Jalur yang terputus, terlalu sempit, atau terhalang dapat membuat pejalan kaki kesulitan melintas dan meningkatkan risiko mereka turun ke badan jalan.

Karena itu, sorotan warganet terhadap trotoar di Jalan Matraman Raya menjadi pengingat pentingnya pengawasan dan evaluasi fasilitas pedestrian, khususnya di kawasan yang mengalami pembangunan besar. Pemerintah perlu memastikan bahwa penataan jalan tetap memperhatikan kebutuhan semua pengguna, termasuk pejalan kaki, penyandang disabilitas, lansia, dan anak-anak.

Hingga kini, unggahan yang menjadi sorotan tersebut belum disertai penjelasan resmi yang memastikan penyebab perubahan kondisi trotoar pada titik-titik yang dipersoalkan. Pemeriksaan lapangan dan keterangan dari instansi terkait diperlukan untuk menjelaskan kondisi sebenarnya serta memastikan fasilitas pejalan kaki di kawasan Matraman tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

Tag

Memuat tag berita...