Memuat berita

TNI AL Temukan Life Jacket di Perairan Anyer Saat Cari 8 Orang Hilang, Pemilik Kapal Beri Klarifikasi

11 September 2026
8

Upaya pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal Arupadhatu 1 yang hilang kontak di kawasan Selat Sunda kembali menemukan petunjuk dari laut. TNI Angkatan Laut (TNI AL) menemukan sebuah life jacket berwarna oranye serta botol tabung putih di perairan sebelah barat Anyer, Banten, pada Kamis (10/9/2026).

Temuan tersebut diperoleh ketika personel TNI AL melakukan penyisiran untuk mencari keberadaan delapan orang yang hingga kini masih belum diketahui keberadaannya. Barang-barang yang ditemukan kemudian diamankan dan diperiksa untuk memastikan apakah memiliki keterkaitan dengan rombongan yang sedang dicari.

Penemuan perlengkapan keselamatan di tengah operasi pencarian sempat menimbulkan harapan bahwa petunjuk penting mengenai keberadaan rombongan mulai ditemukan. Namun, kepastian mengenai keterkaitan barang tersebut dengan kapal Arupadhatu 1 masih harus menunggu proses pemeriksaan lebih lanjut.

Pemilik kapal Arupadhatu 1, Sandi Wiyasa, kemudian memberikan klarifikasi mengenai life jacket yang ditemukan. Ia memastikan perlengkapan berwarna oranye tersebut bukan berasal dari kapal yang membawa lima jurnalis dan tiga kru tersebut.

Menurut Sandi, life jacket yang tersedia di Arupadhatu 1 memiliki warna merah dan hijau terang. Perbedaan warna tersebut menjadi alasan dirinya menyatakan bahwa perlengkapan yang ditemukan TNI AL tidak sama dengan perlengkapan keselamatan yang digunakan di kapalnya.

Dengan demikian, temuan life jacket oranye di perairan barat Anyer belum dapat dijadikan bukti bahwa rombongan Arupadhatu 1 berada di lokasi tersebut atau telah meninggalkan perlengkapan tersebut di laut.

Pemeriksaan tetap dilakukan karena setiap benda yang ditemukan selama operasi SAR berpotensi menjadi petunjuk. Tim pencarian harus memastikan asal-usul barang, lokasi penemuan, serta kemungkinan hubungan dengan kapal maupun orang-orang yang sedang dicari.

Selain life jacket, petugas juga menemukan sebuah botol tabung berwarna putih. Barang tersebut turut diperiksa untuk mengetahui apakah berkaitan dengan rombongan yang hilang atau merupakan benda lain yang terbawa arus dan ditemukan di kawasan pencarian.

Operasi pencarian terhadap rombongan Arupadhatu 1 sendiri telah berlangsung sejak mereka dilaporkan hilang kontak setelah berangkat dari kawasan Carita. Mereka terdiri atas lima jurnalis, seorang pemandu wisata, nakhoda, dan seorang anak buah kapal yang berada dalam satu speedboat.

Rombongan tersebut sebelumnya berangkat menuju kawasan perairan sekitar Gunung Anak Krakatau ketika gunung api itu masih menunjukkan aktivitas erupsi. Mereka berada di lokasi untuk menjalankan tugas peliputan dan memantau perkembangan aktivitas vulkanik.

Salah satu anggota rombongan, pemandu wisata yang dikenal dengan nama Heri Bonsay, sempat menghubungi keluarganya dan menyampaikan kondisi mereka. Namun, setelah komunikasi tersebut, hubungan dengan rombongan kemudian terputus.

Hilangnya kontak membuat keluarga dan rekan-rekan mereka menunggu kabar dengan penuh kecemasan. Tim SAR gabungan kemudian bergerak melakukan pencarian dengan mengerahkan kapal serta personel ke sejumlah sektor di Selat Sunda.

Dalam operasi tersebut, kondisi laut dan cuaca menjadi faktor yang harus terus diperhitungkan. Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga menjadi perhatian karena tim harus bekerja di kawasan yang masih dipengaruhi aktivitas vulkanik.

Wilayah pencarian pun tidak hanya terbatas pada satu titik. Arus laut, angin, serta kondisi perairan dapat menyebabkan benda maupun kapal bergerak menjauh dari lokasi terakhir diketahui. Karena itu, setiap temuan dari permukaan laut dapat membantu petugas menentukan arah pencarian berikutnya.

Namun, tidak semua barang yang ditemukan di laut otomatis berkaitan dengan korban. Perlengkapan seperti life jacket, botol, maupun benda terapung lainnya dapat berasal dari kapal lain atau terbawa arus dari lokasi yang jauh. Karena itu, verifikasi menjadi tahapan penting sebelum temuan ditetapkan sebagai bagian dari barang milik rombongan yang hilang.

Klarifikasi Sandi mengenai warna life jacket menjadi salah satu informasi penting dalam proses tersebut. Jika perlengkapan di Arupadhatu 1 memang berwarna merah dan hijau terang, maka temuan berwarna oranye perlu ditelusuri lebih lanjut sebelum dikaitkan dengan kapal tersebut.

Bagi tim SAR, pencarian tetap berlanjut meskipun temuan awal belum memberikan kepastian. Seluruh kemungkinan tetap diperhitungkan sembari petugas memperluas penyisiran dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber.

Setiap petunjuk menjadi penting karena waktu terus berjalan. Harapan keluarga adalah menemukan delapan orang tersebut dalam kondisi selamat, sementara tim SAR harus bekerja dengan mempertimbangkan luas wilayah perairan, kondisi cuaca, dan faktor keselamatan personel.

Temuan di perairan barat Anyer pada 10 September pun belum mengubah status pencarian secara signifikan. Life jacketoranye dan botol tabung putih masih menjadi benda yang perlu diperiksa, tetapi belum terdapat dasar yang cukup untuk memastikan keduanya berasal dari Arupadhatu 1.

Kondisi tersebut menunjukkan betapa pentingnya ketelitian dalam operasi pencarian di laut. Harapan dan dugaan harus tetap dipisahkan dari fakta yang telah terverifikasi agar keluarga maupun masyarakat tidak menerima informasi yang keliru.

Di tengah ketidakpastian itu, operasi SAR terhadap lima jurnalis, pemandu wisata, nakhoda, dan kru Arupadhatu 1 terus dilakukan. Tim gabungan masih menelusuri kawasan Selat Sunda dan sekitarnya untuk menemukan keberadaan mereka.

Temuan life jacket oranye memang menjadi perhatian, tetapi klarifikasi pemilik kapal membuat petunjuk tersebut belum dapat dikaitkan langsung dengan rombongan yang hilang. Pencarian pun terus berpacu dengan waktu, sementara keluarga masih menanti satu kabar yang paling diharapkan: delapan orang yang hilang kontak segera ditemukan dalam keadaan selamat.

Tag

Memuat tag berita...