Sukarelawan Rescue Rumah Zakat berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah. Lokasi penanganan berada di wilayah Katingan. Operasi pemadaman dilakukan di tengah kondisi lahan gambut yang menantang. Api dan asap menjadi lawan yang harus dihadapi setiap hari. Sebanyak tujuh personel dikerahkan untuk tugas pemadaman tersebut. Mereka bekerja di medan yang sulit dan berisiko. Fokus utama tidak hanya pada api di permukaan. Bara yang tersembunyi di bawah permukaan tanah gambut juga menjadi target pemadaman.
Lahan gambut memiliki karakteristik khusus yang mempersulit pemadaman. Api sering kali tetap menyala di bawah tanah meski permukaan sudah terlihat padam. Kondisi ini menuntut teknik khusus dan ketelitian tinggi. Sukarelawan harus memastikan bara benar-benar padam. Untuk mengatasi tantangan tersebut, sukarelawan menggunakan teknik nozzle tanam. Teknik ini dilakukan dengan memasukkan ujung selang ke dalam lapisan gambut. Air kemudian disalurkan langsung ke titik-titik bara yang sulit terlihat. Metode tersebut memungkinkan air menjangkau sumber api di bawah permukaan.
Upaya pemadaman penuh tantangan karena sifat gambut yang mudah menyimpan bara. Bara api bisa tetap menyala di bawah tanah dalam waktu lama. Meskipun api di permukaan telah padam, risiko kebakaran kembali selalu mengintai. Kewaspadaan harus dijaga selama dan setelah operasi. Tujuh personel Rescue Rumah Zakat bekerja secara bergiliran dan terkoordinasi. Mereka membawa peralatan selang dan nozzle yang disesuaikan untuk teknik tanam. Kondisi medan yang basah dan berasap menambah tingkat kesulitan. Fisik dan mental sukarelawan diuji selama bertugas.
Teknik nozzle tanam menjadi solusi praktis di lahan gambut. Dengan memasukkan ujung selang ke dalam tanah, air dapat menembus lapisan yang mengandung bara. Metode konvensional menyemprot dari atas sering kali tidak cukup efektif. Pendekatan langsung ke sumber api memberikan hasil lebih baik. Karhutla di wilayah Katingan menjadi salah satu titik yang membutuhkan penanganan serius. Lahan gambut yang terbakar menghasilkan asap tebal dan sulit dipadamkan. Sukarelawan Rumah Zakat hadir untuk membantu upaya pemadaman di tingkat lapangan. Kontribusi mereka menjadi bagian dari gerakan bersama.
Bara yang tersembunyi di bawah permukaan tanah gambut menjadi ancaman tersembunyi. Jika tidak dipadamkan secara tuntas, api dapat kembali menyala kapan saja. Teknik nozzle tanam dirancang untuk menjangkau titik-titik tersebut. Kesabaran dan ketelitian menjadi kunci keberhasilan. Sukarelawan harus bekerja di tengah asap dan suhu tinggi. Risiko kesehatan dan keselamatan selalu ada di lokasi karhutla. Namun, komitmen untuk membantu memadamkan api tetap dijaga. Tujuh personel yang diterjunkan memberikan yang terbaik di lapangan.
Dengan teknik nozzle tanam, air diarahkan tepat ke sumber bara. Lapisan gambut yang dalam dapat dijangkau secara bertahap. Proses ini membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan pemadaman permukaan biasa. Hasilnya diharapkan lebih permanen dan mengurangi risiko api muncul kembali. Upaya pemadaman di Katingan mencerminkan tantangan penanganan karhutla di lahan gambut secara umum. Api di bawah tanah sering kali luput dari perhatian. Sukarelawan Rescue Rumah Zakat menunjukkan bahwa teknik khusus dapat membantu mengatasi persoalan tersebut. Pengalaman di lapangan menjadi pembelajaran berharga.
Tujuh personel yang bertugas terus memantau area yang sudah dipadamkan. Pendinginan dan pemeriksaan ulang dilakukan untuk memastikan tidak ada bara tersisa. Kewaspadaan pascapemadaman sama pentingnya dengan proses pemadaman itu sendiri. Api di gambut membutuhkan penanganan ekstra hati-hati. Kontribusi sukarelawan Rumah Zakat menambah kekuatan penanganan karhutla di Kalimantan Tengah. Kolaborasi dengan pihak terkait di lapangan terus dilakukan. Setiap titik api yang berhasil dipadamkan memberikan harapan. Kerja keras di medan sulit patut diapresiasi.