Memuat berita

Serangan Saudi di Mokha Tewaskan Enam Orang, Konflik Yaman Kembali Memanas di Pesisir Laut Merah

22 September 2026
3

Sedikitnya enam orang tewas dan delapan lainnya terluka setelah serangan udara yang dikaitkan dengan Arab Saudi menghantam kota pelabuhan Mokha, Yaman, di pesisir Laut Merah, Selasa (22/9/2026). Informasi mengenai jumlah korban tersebut disampaikan kantor berita Saba yang berafiliasi dengan kelompok Houthi, sehingga rincian korban belum dapat diverifikasi secara independen.

Menurut laporan tersebut, enam korban yang meninggal merupakan warga sipil, termasuk dua anak dan seorang perempuan. Delapan orang lainnya dilaporkan mengalami luka, termasuk seorang anak dan seorang perempuan. Serangan itu terjadi ketika pertempuran antara Houthi dan pasukan yang didukung Saudi kembali meningkat setelah konflik Yaman yang sempat relatif membeku dalam beberapa tahun terakhir kembali berkobar.

Mokha memiliki arti strategis karena terletak di pesisir Laut Merah dan dekat dengan kawasan Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Penguasaan wilayah pesisir tersebut memberi nilai strategis bagi siapa pun yang mengendalikannya, terutama ketika lalu lintas energi dan perdagangan global sedang menghadapi tekanan dari konflik regional.

Perkembangan terbaru itu terjadi setelah Houthi melancarkan ofensif dalam beberapa pekan terakhir dan merebut sejumlah wilayah strategis di sepanjang pesisir Laut Merah. Reuters melaporkan pasukan Houthi juga bergerak menuju dataran tinggi di Provinsi Taiz dan Lahij dengan tujuan memperkuat posisi yang dapat memutus hubungan pasukan yang didukung Saudi dengan pesisir.

Pergerakan tersebut menekan pemerintahan Yaman yang didukung Saudi. Pasukan anti-Houthi dilaporkan menghadapi persoalan koordinasi dan kemampuan untuk menghentikan laju ofensif. Situasi itu kemudian mendorong Riyadh meningkatkan serangan udara terhadap posisi-posisi yang dikuasai atau digunakan Houthi di berbagai wilayah Yaman.

Konflik Yaman sendiri memiliki sejarah panjang. Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014 dan sejak 2015 Arab Saudi memimpin koalisi yang mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional. Perang besar-besaran kemudian menyebabkan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Pertempuran memang relatif mereda sejak 2022, tetapi tidak pernah benar-benar menghasilkan penyelesaian politik yang permanen.

Kebangkitan konflik tahun ini memperlihatkan bahwa periode tenang tersebut sangat rapuh. Reuters melaporkan ofensif terbaru Houthi telah menyebabkan hampir 700 orang tewas dan lebih dari 130.000 orang mengungsi menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa. UNHCR juga memperingatkan lebih banyak warga Yaman diperkirakan meninggalkan rumah mereka dalam beberapa bulan mendatang jika pertempuran terus meningkat.

Perhatian internasional semakin besar karena eskalasi di Yaman berpotensi berdampak ke jalur pelayaran internasional. Houthi telah berulang kali menyerang kapal dan kepentingan yang mereka kaitkan dengan pihak lawan, sementara perkembangan terbaru di sekitar Laut Merah dan Bab al-Mandeb menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan perdagangan global dan aliran energi.

Dalam perkembangan terbaru, kepala badan pemerintahan Yaman, Rashad al-Alimi, juga meminta dukungan Amerika Serikat. Alimi berbicara melalui telepon dengan Presiden Donald Trump pada Minggu (20/9), sehari sebelum pemberitaan mengenai permintaan tersebut muncul. Menurut sumber yang mengetahui pembicaraan itu, Alimi meminta bantuan militer AS untuk menghadapi kemajuan Houthi. Namun, Trump tidak memberikan komitmen mengenai dukungan militer langsung.

Panggilan tersebut berlangsung ketika Washington menghadapi pilihan sulit mengenai sejauh mana harus kembali terlibat langsung dalam konflik Yaman. Reuters melaporkan Trump sebelumnya mempertimbangkan serangan terhadap Houthi, tetapi kemudian tidak melanjutkannya. Faktor risiko eskalasi regional dan potensi gangguan terhadap pelayaran menjadi bagian dari pertimbangan tersebut.

Sikap Washington itu juga berbeda dengan langkah sejumlah negara sekutunya. Inggris pada Senin menyatakan akan memberikan dukungan pertahanan terbatas kepada Arab Saudi, termasuk pengisian bahan bakar udara untuk pesawat tempur Saudi. Prancis juga menyatakan siap membantu mengamankan infrastruktur energi Saudi dengan pendekatan yang disebut “defensif”.

Pada Selasa, kelompok G7 turut menyerukan agar Houthi menghentikan serangan. Para menteri luar negeri G7 meminta Houthi menghentikan seluruh aksi militer dan serangan terhadap pelayaran sipil serta kembali ke proses politik. Mereka juga meminta Iran menghentikan dukungan dan persenjataan kepada Houthi. Pernyataan tersebut merupakan posisi resmi G7, bukan penilaian independen mengenai seluruh dinamika konflik.

Bagi Arab Saudi, perkembangan ini memiliki dimensi keamanan yang semakin besar. Houthi dalam beberapa hari terakhir tidak hanya beroperasi di wilayah Yaman, tetapi juga meningkatkan serangan terhadap wilayah Saudi. Serangan terhadap infrastruktur energi dan ancaman terhadap jalur ekspor membuat Riyadh mencari dukungan tambahan dari sejumlah mitra regional dan Barat.

Bagi masyarakat Yaman, eskalasi baru tersebut berlangsung di tengah kondisi kemanusiaan yang sudah sangat berat. Lebih dari 130.000 orang telah meninggalkan rumah mereka sejak awal September akibat pertempuran, sementara UNHCR memperingatkan hingga 100.000 orang tambahan dapat mengungsi dalam tiga bulan ke depan apabila kekerasan terus berlanjut. Lembaga tersebut juga menyebut sebagian pengungsi menyeberangi Laut Merah menuju Djibouti dan Somalia.

Kondisi inilah yang membuat serangan di Mokha tidak bisa dipandang hanya sebagai satu insiden udara. Kota pelabuhan tersebut berada di titik yang terkait langsung dengan perebutan kendali pesisir Laut Merah, sementara kawasan sekitarnya semakin menjadi arena persaingan antara Houthi dan pasukan yang didukung Saudi.

Perkembangan tersebut juga menambah tekanan terhadap stabilitas kawasan yang sudah terguncang oleh konflik lain di Timur Tengah. Ketika Bab al-Mandeb dan Laut Merah menghadapi ancaman keamanan bersamaan dengan ketegangan di kawasan Teluk, setiap perubahan di medan perang Yaman berpotensi memiliki dampak yang melampaui batas negara.

Kondisi pelabuhan Mokha, Yaman, di pesisir Laut Merah setelah kerusakan akibat konflik

Serangan Selasa di Mokha terjadi ketika Saudi berusaha mempertahankan jalur pengaruhnya di Yaman, sementara Houthi terus memperluas posisi di kawasan pesisir dan dataran tinggi strategis. Dengan Amerika Serikat masih menahan diri dari komitmen militer langsung dan negara-negara Eropa mulai menawarkan dukungan defensif kepada Riyadh, arah konflik kini memasuki fase yang semakin rumit.

Yang juga belum jelas adalah seberapa jauh ofensif Houthi akan berkembang dan bagaimana Arab Saudi serta pemerintah Yaman akan meresponsnya. Namun, dengan korban sipil terus berjatuhan, pengungsian meningkat, serta jalur perdagangan strategis berada di tengah ketegangan, konflik yang kembali memanas di Yaman kini menjadi persoalan yang kembali mendapat perhatian internasional.

Sementara jumlah korban serangan Mokha masih menunggu verifikasi lebih lanjut, satu hal telah terlihat jelas: ketegangan di pesisir Laut Merah kembali meningkat, dan Yaman kembali menjadi salah satu titik paling rawan dalam gejolak geopolitik Timur Tengah.

Tag

Memuat tag berita...