Memuat berita

Sembilan Hari Sebelum Tewas Ditembak, Susy Aponte Sudah Laporkan Ancaman dari Tiga Penjara

22 September 2026
8

Jurnalis sekaligus kandidat Gubernur Regional Áncash, Peru, Susy Isabel Aponte Polo, yang dikenal dengan julukan “La China Polo”, tewas ditembak saat melakukan kegiatan kampanye di sebuah pasar di Kota Caraz, Provinsi Huaylas, Sabtu (19/9/2026). Pembunuhan tersebut terjadi hanya sekitar dua pekan sebelum pemilihan regional dan municipal Peru yang dijadwalkan berlangsung pada 4 Oktober 2026.

Aponte Polo, 43 tahun, merupakan kandidat gubernur dari gerakan politik Socios por Áncash. Selain aktif dalam politik, ia dikenal sebagai jurnalis yang menjalankan platform “China Polo Dominical” dan kerap membuat laporan mengenai dugaan berbagai pelanggaran maupun korupsi di sejumlah lembaga publik.

Serangan terjadi ketika Aponte Polo tengah menjalankan aktivitas kampanye di pusat perbelanjaan rakyat tersebut. Berdasarkan informasi awal dari aparat dan laporan media Peru, ia ditembak oleh seorang pria bersenjata. Kesaksian yang dikutip RPP menyebut korban terkena tembakan di bagian kepala setelah diserang dari belakang. Dua orang lainnya juga dilaporkan mengalami luka akibat serangan tersebut.

Setelah penembakan, seorang warga negara Venezuela yang diduga terlibat ditangkap di Caraz. Kepolisian kemudian mengembangkan penyelidikan hingga ke Lima dan menangkap seorang warga Venezuela lainnya yang diduga memiliki keterkaitan dengan serangan tersebut.

Perkembangan penyidikan hingga 21 September menunjukkan aparat telah mengumpulkan sejumlah bukti untuk menelusuri keterlibatan kedua orang tersebut. Komandan Jenderal Kepolisian Nasional Peru, Fredy López, mengatakan rekaman kamera pengawas memperlihatkan tersangka yang diduga menjadi pelaku penembakan melarikan diri dari lokasi sambil membawa senjata api sebelum kemudian kabur menggunakan mototaksi.

Polisi juga menyatakan senjata api yang ditemukan dari salah satu tersangka telah menjalani pemeriksaan kriminalistik. Menurut kepolisian, senjata tersebut diduga pernah digunakan dalam lima tindak pidana lain sejak 2025, termasuk kasus perampokan dengan kekerasan, penganiayaan, serta dua pembunuhan. Temuan itu masih menjadi bagian dari proses penyidikan dan belum dengan sendirinya membuktikan seluruh keterlibatan tersangka dalam perkara-perkara tersebut.

Penyelidikan kemudian berkembang pada dugaan bahwa pembunuhan terhadap Aponte Polo bukan sekadar serangan spontan. Polisi dan jaksa kini mendalami kemungkinan adanya perencanaan serta pihak lain yang berada di balik penembakan tersebut. Hingga 21 September, dua orang yang telah ditahan masih berstatus sebagai pihak yang diduga terkait dengan perkara dan proses hukum terhadap mereka masih berjalan. Pengadilan kemudian memberikan tambahan waktu penahanan selama 15 hari untuk kepentingan penyidikan.

Yang membuat kasus tersebut menjadi sorotan luas adalah fakta bahwa Aponte Polo sebelumnya telah mengungkapkan adanya ancaman terhadap dirinya. Sembilan hari sebelum dibunuh, tepatnya pada 10 September 2026, ia mempublikasikan video melalui akun media sosialnya dan mengatakan telah menerima ancaman serta telepon dari tiga lembaga pemasyarakatan yang berbeda.

Dalam rekaman tersebut, Aponte Polo menyatakan bahwa penelepon dari tiga penjara berbeda memberikan peringatan mengenai dugaan rencana serangan terhadap dirinya. Ia juga mengaitkan ancaman tersebut dengan nama Jenderal PNP Víctor Revoredo Farfán, pejabat kepolisian yang disebutnya dalam video sebagai pihak yang diduga memerintahkan serangan.

Namun, tudingan tersebut merupakan pernyataan Aponte Polo sebelum kematiannya dan belum dapat dianggap sebagai fakta yang telah terbukti. Polisi maupun aparat penegak hukum masih harus menentukan siapa yang berada di balik ancaman dan apakah pernyataan mengenai dugaan perintah tersebut memiliki hubungan langsung dengan pembunuhan yang terjadi pada 19 September. RPP juga melaporkan bahwa autoridades belum menetapkan apakah pernyataannya sebelum meninggal berkaitan langsung dengan kejahatan tersebut.

Dalam video itu pula Aponte Polo mengatakan dirinya telah menyampaikan laporan mengenai ancaman yang diterimanya kepada pihak berwenang. Pernyataan tersebut kini kembali menjadi perhatian karena pembunuhan terjadi hanya sembilan hari setelah ia secara terbuka mengungkap ancaman tersebut.

Aponte Polo memang memiliki aktivitas jurnalistik yang membuat namanya dikenal di Áncash. Melalui “China Polo Dominical”, ia memberitakan dan mengangkat dugaan pelanggaran di berbagai institusi, termasuk pemerintah daerah, kejaksaan, dan kepolisian. Pada hari kematiannya, ia bahkan disebut sempat menyampaikan rencana untuk mengungkap informasi mengenai sejumlah calon politik serta dugaan persoalan yang berkaitan dengan aparat.

Kombinasi antara aktivitas jurnalistik, keterlibatannya sebagai kandidat gubernur, ancaman yang telah diungkapkan sebelumnya, serta terjadinya penembakan saat kampanye membuat kasus ini mendapat perhatian besar di Peru. Meski demikian, motif pembunuhan masih harus dibuktikan melalui proses penyelidikan dan pemeriksaan alat bukti.

Untuk mempercepat pengungkapan perkara, Menteri Dalam Negeri Peru menugaskan Komandan Jenderal PNP Fredy López memimpin langsung penyelidikan di Caraz. Tim khusus Direktorat Investigasi Kriminal juga dikerahkan untuk memeriksa lokasi kejadian, jalur pelarian, tempat penginapan yang diduga berkaitan dengan para tersangka, serta berbagai rekaman kamera pengawas.

Kepolisian juga melakukan pemeriksaan balistik terhadap senjata yang disita dan mencocokkannya dengan selongsong peluru yang ditemukan di lokasi kejadian. Polisi menyebut senjata tersebut merupakan pistol Glock kaliber 9×19 milimeter dan menurut catatan mereka pernah dilaporkan hilang pada 2023. Seluruh hasil pemeriksaan masih akan menjadi bagian dari berkas perkara dan harus diuji dalam proses hukum.

Dari sisi hukum, Kejaksaan Peru pada awal penyidikan membuka perkara sebagai dugaan feminisida terhadap Aponte Polo. Kejaksaan melalui unit khusus di Huaylas mengumpulkan rekaman kamera pengawas dan bukti lain untuk menentukan rangkaian kejadian serta pihak yang bertanggung jawab.

Perkara ini juga memiliki dampak langsung terhadap kontestasi politik di Áncash. Karena Aponte Polo merupakan kandidat gubernur regional, kematiannya menyebabkan formula calon gubernur dan wakil gubernur dari Socios por Áncash tidak dapat dilanjutkan dalam pemilihan. Berdasarkan aturan JNE Peru, ketika calon gubernur meninggal setelah batas akhir pendaftaran pengganti, formula tersebut menjadi tidak berlaku dan tidak dapat digantikan dengan kandidat baru. Sementara itu, daftar calon untuk Dewan Regional memiliki ketentuan tersendiri.

Artinya, pembunuhan Aponte Polo bukan hanya meninggalkan persoalan kriminal, tetapi juga mengubah peta keikutsertaan salah satu organisasi politik dalam pemilihan regional Áncash yang tinggal menghitung hari. Kendati demikian, proses pemilu dan penyidikan pidana merupakan dua perkara yang berjalan melalui mekanisme berbeda.

Kini perhatian publik tertuju pada pertanyaan utama yang belum terjawab: siapa yang memerintahkan pembunuhan tersebut, apa motifnya, dan apakah ancaman yang diungkapkan Aponte Polo sembilan hari sebelumnya benar-benar berkaitan dengan serangan di pasar Caraz.

Polisi telah menangkap dua orang dan mengumpulkan rekaman video, bukti balistik, serta informasi lain yang dinilai penting untuk mengurai kasus. Namun, sampai seluruh alat bukti diuji melalui proses hukum, identitas pihak yang diduga menjadi otak pembunuhan dan motif di baliknya masih merupakan bagian dari penyelidikan.

Kematian Susy Isabel Aponte Polo terjadi ketika ia berada di tengah kegiatan politik untuk memperebutkan jabatan gubernur Áncash. Fakta bahwa korban sebelumnya telah mengumumkan adanya ancaman terhadap dirinya membuat penyidikan kasus ini kini tidak hanya diarahkan untuk menemukan pelaku lapangan, tetapi juga untuk mengungkap apakah ada pihak yang merencanakan dan memerintahkan serangan tersebut.

Tag

Memuat tag berita...