Memuat berita

Saksikan Anak Krakatau Semburkan Lava Pijar, Rombongan Pemancing Jakarta Langsung Tinggalkan Laut

06 September 2026
28

Detik-detik erupsi Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda disaksikan langsung oleh rombongan pemancing asal Jakarta pada Jumat, 4 September 2026 malam. Dari tengah perairan, mereka melihat gunung api tersebut menyemburkan lava pijar yang menerangi kawasan sekitar di tengah gelapnya malam.

Fenomena tersebut terjadi sekitar pukul 23.15 WIB, tidak lama setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau meningkat. Rombongan yang berada di kawasan perairan itu sempat mengabadikan momen ketika material pijar terlihat terlontar dari gunung api.

Namun, menyaksikan fenomena alam dari jarak dekat membuat rombongan tidak ingin mengambil risiko. Setelah sempat merekam aktivitas erupsi, mereka memilih menjauh dari lokasi dan memutuskan untuk segera kembali ke daratan.

Keputusan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi mengingat aktivitas gunung api dapat berubah sewaktu-waktu. Terlebih, erupsi Anak Krakatau pada malam itu berlangsung dengan cukup jelas dan disertai lontaran material pijar.

Peristiwa tersebut ternyata bukan pengalaman terakhir yang dirasakan rombongan. Sesampainya di darat, pada Sabtu, 5 September 2026 sekitar pukul 08.00 WIB, mereka kembali merasakan dampak yang diduga berkaitan dengan aktivitas vulkanik Anak Krakatau.

Kaca jendela di sebuah bangunan dilaporkan bergetar. Fenomena tersebut kemudian direkam oleh rombongan dan menjadi salah satu gambaran mengenai dampak aktivitas erupsi yang dirasakan masyarakat di daratan.

Getaran serupa juga dilaporkan dirasakan oleh warga di sejumlah wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten. Berdasarkan laporan media, warga mulai merasakan getaran tersebut pada Sabtu siang.

Bagi masyarakat, getaran yang muncul setelah rangkaian aktivitas erupsi Anak Krakatau menimbulkan kekhawatiran. Pasalnya, gunung api tersebut tengah berada dalam periode aktivitas yang meningkat dan telah menghasilkan erupsi menerus.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten menyatakan getaran yang dirasakan masyarakat dipicu oleh aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Dugaan serupa juga disampaikan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Aktivitas erupsi Anak Krakatau dinilai menjadi penyebab getaran yang dirasakan di sejumlah wilayah tersebut.

Rangkaian peristiwa ini terjadi ketika Gunung Anak Krakatau terus menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan. Gunung api di kawasan Selat Sunda itu dilaporkan mengalami erupsi menerus sejak Jumat, 4 September 2026 sekitar pukul 23.07 WIB.

Aktivitas tersebut juga disertai fenomena lava fountain atau lava air mancur. Lontaran material pijar dari kawah menjadi salah satu fenomena yang dapat terlihat secara langsung dari wilayah sekitar ketika kondisi cuaca dan jarak pandang memungkinkan.

Selain lava pijar, suara dentuman dan gemuruh juga dilaporkan terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran, Kabupaten Serang, Banten. Bahkan, perangkat CCTV pemantauan di lapangan dilaporkan mengalami gangguan setelah terkena lontaran material erupsi.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak hanya berdampak terhadap masyarakat yang berada di sekitar kawasan Selat Sunda. Dalam perkembangannya, sebaran abu vulkanik juga telah mencapai sejumlah wilayah yang lebih jauh.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mengidentifikasi sebaran abu vulkanik menuju wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pada Minggu, 6 September 2026 pukul 04.00 WIB, salah satu klaster abu terpantau bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.

Sebaran abu tersebut terpantau dari permukaan hingga ketinggian sekitar 20.000 kaki. Kondisi ini kemudian turut berdampak pada sektor penerbangan, dengan sejumlah bandara mengalami penutupan sementara akibat indikasi keberadaan abu vulkanik.

Di sisi lain, masyarakat di sejumlah wilayah Lampung juga melaporkan hujan abu vulkanik yang terbawa angin. Dampak tersebut menunjukkan bahwa material erupsi Anak Krakatau dapat menjangkau wilayah yang cukup jauh dari pusat letusan, bergantung pada kondisi atmosfer dan arah pergerakan angin.

Gunung Anak Krakatau sendiri masih berstatus Level III atau Siaga. PVMBG merekomendasikan masyarakat, wisatawan, pengunjung, maupun pendaki untuk tidak mendekati kawasan gunung api dan tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.

Bagi rombongan pemancing yang berada di laut pada malam erupsi, keputusan untuk segera kembali ke daratan menjadi langkah penting. Fenomena lava pijar yang mereka saksikan memang menjadi pemandangan alam yang luar biasa, tetapi aktivitas gunung api tetap menyimpan risiko yang tidak dapat diprediksi hanya berdasarkan apa yang terlihat dari kejauhan.

Sementara itu, getaran kaca jendela dan laporan warga di Pandeglang memperlihatkan bahwa aktivitas Anak Krakatau juga dapat dirasakan di daratan. Meski getaran tersebut dikaitkan dengan aktivitas erupsi, masyarakat tetap perlu mengandalkan informasi dari lembaga resmi untuk memahami perkembangan kondisi gunung api.

Erupsi Gunung Anak Krakatau kini bukan hanya terlihat dari semburan lava pijar di tengah laut. Suara gemuruh, getaran yang dirasakan warga, sebaran abu hingga berbagai wilayah, bahkan gangguan terhadap penerbangan menjadi rangkaian dampak yang menunjukkan besarnya dinamika aktivitas gunung api tersebut.

Di tengah meningkatnya aktivitas Anak Krakatau, kewaspadaan masyarakat menjadi hal yang sangat penting. Fenomena alam yang terlihat spektakuler dari kejauhan tetap harus disikapi dengan hati-hati, karena keselamatan menjadi prioritas utama selama gunung api masih berada dalam kondisi aktif dan erupsi terus berlangsung.

Tag

Memuat tag berita...