Memuat berita

Rusia Ancam Intensifkan Serangan ke Kyiv Usai Moskow Dihujani 1.600 Drone Ukraina

22 September 2026
8

Rusia mengancam akan mengintensifkan serangan ke Kyiv setelah Ukraina melancarkan gelombang serangan drone besar-besaran ke Moskow dan wilayah sekitarnya pada Minggu (20/9/2026). Serangan tersebut terjadi pada hari terakhir pemungutan suara dalam pemilihan parlemen Rusia dan menjadi salah satu serangan udara terbesar yang menyasar ibu kota Rusia sejak perang Ukraina dimulai pada 2022.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan akan memberikan respons militer terhadap serangan tersebut. Moskow menuding serangan drone Ukraina tidak hanya menyasar sejumlah infrastruktur di wilayah Rusia, tetapi juga bertujuan mengganggu proses pemungutan suara yang sedang berlangsung.

“Sebagai respons terhadap serangan rezim Kyiv terhadap target sipil di wilayah Rusia, tentara Rusia akan melanjutkan dan mengintensifkan serangan berpresisi tinggi terhadap target militer di Kyiv,” kata Kementerian Pertahanan Rusia, seperti dikutip AFP.

Ancaman tersebut muncul setelah rentetan drone Ukraina memasuki wilayah Moskow dan daerah di sekitarnya sejak malam hingga pagi hari. Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin mengatakan sistem pertahanan udara Rusia telah mencegat lebih dari 1.600 drone sejak Sabtu (19/9), dengan sekitar 450 di antaranya disebut mengarah langsung ke ibu kota.

Angka tersebut merujuk pada klaim otoritas Rusia mengenai drone yang berhasil dicegat dan ditembak jatuh dalam rangkaian serangan tersebut. Kementerian Pertahanan Rusia secara terpisah melaporkan jumlah yang berbeda untuk drone yang dihancurkan dalam periode dan wilayah tertentu. Karena itu, angka 1.600 tidak dapat dipahami sebagai jumlah pasti seluruh drone yang diluncurkan Ukraina ke Moskow.

Meski demikian, skala serangan tersebut tergolong luar biasa. AFP menyebut serangan itu sebagai serangan drone terbesar terhadap Moskow sejak Rusia melancarkan invasi penuh ke Ukraina pada Februari 2022. Serangan terjadi ketika warga Rusia sedang memberikan suara pada hari ketiga sekaligus hari terakhir pemilihan parlemen yang berlangsung selama tiga hari.

Dampak serangan terlihat di sejumlah titik di wilayah Moskow. Sebuah fasilitas kilang minyak mengalami kebakaran, sementara sebuah bangunan tempat tinggal juga dilaporkan rusak setelah terkena serangan atau puing-puing drone.

Pemerintah wilayah Moskow pada laporan awal menyebut dua orang tewas dan sejumlah lainnya terluka. Dalam pembaruan berikutnya yang dikutip Reuters, Gubernur Moskow Andrei Vorobyov melaporkan sedikitnya tiga orang meninggal dunia di wilayah tersebut. Angka korban karena itu berubah seiring pembaruan informasi dari otoritas setempat.

Salah satu lokasi penting yang terdampak adalah Kilang Minyak Moskow yang dioperasikan Gazprom Neft. Kilang tersebut mengalami kebakaran setelah serangan drone dan kemudian menghentikan pengolahan minyak mentah. Reuters melaporkan dua unit distilasi utama terdampak dan perbaikan diperkirakan membutuhkan waktu beberapa pekan.

Kilang tersebut merupakan salah satu fasilitas pengolahan minyak penting bagi wilayah ibu kota. Pada 2024, fasilitas itu mengolah sekitar 11,6 juta ton minyak mentah dan menghasilkan antara lain bensin, solar, serta bitumen. Gangguan pada fasilitas tersebut berpotensi memengaruhi pasokan produk BBM di wilayah Moskow dan sekitarnya.

Selain kilang, kerusakan juga dilaporkan terjadi pada bangunan hunian di wilayah sekitar ibu kota. Salah satu serangan menyebabkan kerusakan pada sebuah gedung bertingkat dan memaksa ratusan warga dievakuasi. Reuters dan laporan media internasional menyebut sekitar 400 orang dievakuasi dari bangunan yang terdampak.

Sobyanin menggambarkan serangan tersebut sebagai serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Moskow. Ia menuduh Ukraina sengaja melancarkan serangan pada saat pemilihan berlangsung untuk mengganggu proses politik Rusia.

Kementerian Pertahanan Rusia juga menggunakan narasi serupa. Moskow menuduh Ukraina berusaha “mengganggu kehendak demokratis warga Rusia” melalui serangan pada hari terakhir pemungutan suara. Tuduhan mengenai tujuan politik serangan tersebut merupakan klaim pemerintah Rusia dan belum dapat dipastikan secara independen.

Di pihak Ukraina, Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan serangan tersebut mengenai fasilitas strategis di sektor minyak dan logistik Rusia. Pemerintah Ukraina secara terbuka menyebut serangan jarak jauh terhadap infrastruktur energi Rusia sebagai bagian dari upaya mengurangi kemampuan Rusia mendanai dan menopang operasi militernya.

Dinas Keamanan Ukraina (SBU) bahkan menyatakan pasukannya bersama sejumlah unsur pertahanan telah menyerang Kilang Minyak Moskow di kawasan Kapotnya. SBU mengklaim drone jarak jauh mereka mampu menembus pertahanan udara Rusia dan menyebabkan kebakaran besar di fasilitas tersebut. Klaim operasional seperti ini berasal dari pihak Ukraina dan tidak seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.

Zelenskyy juga menyebut sejumlah persenjataan buatan Ukraina digunakan dalam serangan tersebut, termasuk drone jarak jauh dan sistem serang lainnya. Namun, rincian mengenai jenis serta jumlah senjata yang benar-benar mencapai sasaran masih menjadi bagian dari informasi yang sulit diverifikasi secara independen dalam kondisi perang.

Serangan terhadap Moskow ini terjadi di tengah meningkatnya perang drone antara Rusia dan Ukraina. Dalam beberapa bulan terakhir, Kyiv semakin sering menggunakan serangan jarak jauh untuk menyasar kilang minyak, fasilitas energi, gudang, serta infrastruktur logistik yang berada jauh dari garis depan.

Rangkaian serangan tersebut menjadi salah satu cara Ukraina memberikan tekanan terhadap kemampuan energi dan logistik Rusia. Sasaran kilang minyak memiliki nilai strategis karena fasilitas pengolahan tersebut memasok bahan bakar untuk kebutuhan domestik sekaligus berkaitan dengan rantai pasok yang mendukung aktivitas ekonomi dan militer Rusia.

Namun, serangan besar ke Moskow juga membawa konsekuensi berupa ancaman pembalasan yang lebih keras dari Rusia. Pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia secara eksplisit menyebut serangan berpresisi tinggi terhadap target militer di Kyiv akan dilanjutkan dan ditingkatkan.

Ancaman itu menambah kekhawatiran bahwa perang udara antara kedua negara akan memasuki fase yang lebih intens. Kyiv sendiri selama beberapa waktu terakhir menghadapi gelombang serangan drone dan rudal Rusia yang menghantam berbagai wilayah, termasuk pusat-pusat perkotaan dan infrastruktur penting.

Dengan demikian, aksi saling serang tidak lagi hanya berlangsung di sekitar garis depan. Infrastruktur energi, fasilitas industri, logistik, dan kota-kota yang berada jauh dari medan tempur kini semakin sering menjadi bagian dari perang jarak jauh kedua negara.

Serangan ke Moskow juga memiliki dimensi politik karena berlangsung tepat ketika Rusia menyelesaikan pemilihan parlemen. Pemungutan suara tersebut merupakan pemilu legislatif Rusia pertama sejak invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022. Hasil resmi kemudian menunjukkan Partai United Russia tetap memegang mayoritas besar di Duma Negara.

Kremlin sebelumnya menggambarkan pemilu tersebut sebagai bagian penting dari kehidupan politik nasional di tengah perang. Sementara itu, Ukraina dan sejumlah negara Barat mempertanyakan proses pemilu Rusia, termasuk penyelenggaraan pemungutan suara di wilayah Ukraina yang berada di bawah pendudukan Rusia.

Bagi Moskow, serangan pada hari terakhir pemungutan suara dapat menjadi alasan tambahan untuk meningkatkan tekanan militer terhadap Ukraina. Namun, apakah serangan tersebut memang dirancang secara khusus untuk mengganggu pemilu masih belum dapat dipastikan secara independen.

Yang sudah terlihat jelas adalah dampak langsung serangan terhadap infrastruktur Rusia. Kilang minyak Moskow menghentikan pengolahan minyak mentah setelah fasilitas utamanya mengalami kerusakan. Gangguan ini menambah tekanan terhadap sistem pengolahan BBM Rusia yang dalam beberapa bulan terakhir juga menjadi sasaran serangan drone Ukraina.

Di saat yang sama, ancaman Rusia untuk meningkatkan serangan ke Kyiv membuka kemungkinan terjadinya siklus pembalasan baru. Setiap serangan terhadap fasilitas energi Rusia berpotensi dibalas dengan serangan terhadap infrastruktur di Ukraina, sementara kedua pihak terus mempertahankan kemampuan melakukan serangan jarak jauh.

Perkembangan tersebut juga terjadi ketika upaya diplomatik untuk mengurangi serangan terhadap infrastruktur energi masih dibicarakan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mendorong penghentian serangan terhadap fasilitas energi kedua pihak, tetapi serangan kembali terjadi dan belum terdapat gencatan senjata energi yang benar-benar berjalan secara efektif.

Kini perhatian tertuju pada langkah Rusia setelah ancaman tersebut dikeluarkan. Belum dapat dipastikan seberapa besar intensifikasi serangan ke Kyiv yang akan dilakukan ataupun sasaran apa yang akan dipilih Moskow.

Yang pasti, serangan massal drone ke Moskow pada 20 September 2026 telah menjadi salah satu serangan udara terbesar terhadap ibu kota Rusia sejak awal perang. Dengan kerusakan pada fasilitas minyak strategis, korban jiwa di wilayah Moskow, serta janji Rusia untuk meningkatkan serangan ke Kyiv, ketegangan perang Rusia-Ukraina kembali memasuki fase yang berpotensi semakin keras.

Tag

Memuat tag berita...