Memuat berita

Rupiah Menguat ke Rp17.900 per Dolar AS, Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Menguat

09 Oktober 2026
3

Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Jumat (9/10/2026) dengan bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah berada di level Rp17.900 per dolar AS, naik 15 poin atau sekitar 0,08 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

Penguatan tersebut terjadi di tengah pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga mencatatkan apresiasi terhadap dolar AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa rupiah tidak bergerak sendirian, melainkan sejalan dengan kecenderungan penguatan sejumlah mata uang regional pada awal perdagangan.

Di kawasan Asia, yuan China tercatat menguat 0,07 persen terhadap dolar AS. Peso Filipina mencatatkan kenaikan lebih tinggi, yakni 0,15 persen, sementara ringgit Malaysia terapresiasi 0,07 persen. Dolar Singapura turut menguat 0,11 persen, sedangkan yen Jepang naik tipis sebesar 0,01 persen.

Meski mayoritas mata uang regional bergerak positif, penguatan tersebut tidak terjadi secara merata. Won Korea Selatan justru melemah 0,03 persen terhadap dolar AS, sementara dolar Hong Kong bergerak stagnan. Perbedaan arah pergerakan ini memperlihatkan bahwa setiap mata uang tetap dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan dinamika pasar masing-masing.

Penguatan rupiah pada awal perdagangan juga berlangsung ketika mata uang utama negara-negara maju kompak bergerak naik terhadap dolar AS. Euro Eropa tercatat menguat 0,13 persen, sedangkan poundsterling Inggris naik 0,12 persen. Dolar Australia membukukan apresiasi sebesar 0,24 persen, menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di antara mata uang negara maju yang disebutkan.

Selain itu, dolar Kanada menguat 0,11 persen dan franc Swiss terapresiasi 0,18 persen terhadap dolar AS. Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan terhadap dolar AS relatif terlihat pada sejumlah pasangan mata uang utama di pasar valuta asing pada pagi itu.

Meski demikian, penguatan rupiah sebesar 15 poin masih tergolong terbatas. Pergerakan pada awal sesi perdagangan belum cukup untuk memastikan arah rupiah sepanjang hari, karena nilai tukar dapat berubah mengikuti perkembangan sentimen pasar, transaksi valuta asing, serta respons investor terhadap informasi ekonomi dan kebijakan moneter.

Bagi pelaku usaha dan masyarakat, pergerakan rupiah tetap menjadi perhatian karena nilai tukar berpengaruh terhadap biaya impor, pembayaran kewajiban dalam mata uang asing, serta harga barang yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri. Rupiah yang menguat dapat membantu menekan biaya impor dalam denominasi dolar AS, meskipun dampaknya terhadap harga barang di dalam negeri tidak selalu terjadi secara langsung.

Dengan posisi Rp17.900 per dolar AS pada Jumat pagi, pelaku pasar akan mencermati apakah penguatan rupiah dapat bertahan hingga penutupan perdagangan. Pergerakan mata uang Asia dan negara-negara maju terhadap dolar AS menjadi salah satu indikator yang dapat diperhatikan untuk membaca dinamika pasar valuta asing, meski arah rupiah selanjutnya tetap bergantung pada perkembangan kondisi pasar.

Tag

Memuat tag berita...