Memuat berita

Radja Nainggolan Menyesal Tak Bela Timnas Indonesia, Akui Bisa Berkarier 15 Tahun Bersama Garuda

12 Oktober 2026
3

Mantan pemain tim nasional Belgia dan klub elite Eropa, Radja Nainggolan, mengungkapkan penyesalan karena tidak pernah membela Timnas Indonesia sepanjang karier profesionalnya. Pemain berdarah Indonesia tersebut mengaku kini memandang keputusannya di masa lalu secara berbeda, setelah merasakan langsung atmosfer sepak bola Tanah Air ketika memperkuat Bhayangkara FC pada 2023.

Pengakuan itu disampaikan Nainggolan dalam wawancara dengan media Belgia, Het Nieuwsblad. Dalam perbincangan tersebut, mantan gelandang AS Roma dan Inter Milan itu merefleksikan perjalanan karier internasionalnya bersama Belgia, sekaligus membandingkannya dengan peluang yang mungkin ia dapatkan apabila sejak awal memilih membela Indonesia. 

Nainggolan mengakui bahwa pengalaman bermain di Indonesia mengubah pandangannya terhadap sepak bola nasional. Ia mengaku terkesan dengan besarnya antusiasme masyarakat terhadap Timnas Indonesia, terutama ketika puluhan ribu suporter memenuhi stadion untuk mendukung skuad Garuda menghadapi lawan-lawan kuat.

Menurut Nainggolan, atmosfer pertandingan sepak bola di Indonesia memiliki daya tarik tersendiri. Ia menyoroti bagaimana suporter memberikan dukungan dengan penuh semangat, bahkan dalam pertandingan melawan tim seperti Vietnam dan Irak.

“Di sana ada tujuh puluh ribu penonton untuk satu pertandingan melawan Vietnam atau Irak, begitu fanatiknya mereka,” ujar Nainggolan, sebagaimana dikutip detikSport dari wawancaranya dengan Het Nieuwsblad. 

Bagi Nainggolan, dukungan besar tersebut bukan sekadar kemeriahan di stadion. Popularitas sepak bola Indonesia juga membuka peluang bagi pemain untuk membangun citra publik dan mengembangkan aktivitas profesional di luar lapangan. Ia menilai perhatian masyarakat terhadap pemain tim nasional dapat memberikan keuntungan bagi perjalanan karier mereka, termasuk setelah tidak lagi aktif sebagai pesepak bola.

Nainggolan turut menyinggung aspek komersial yang menurutnya berkembang di sekitar pemain Timnas Indonesia. Ia menyebut sejumlah merek ternama, seperti Louis Vuitton, Hublot, dan Rolex, dalam pembicaraannya mengenai sponsor dan keuntungan yang dapat diperoleh pemain yang memiliki daya tarik besar di mata publik.

“Uang pun dilemparkan ke mana-mana. Para pemain bahkan disponsori Louis Vuitton, Hublot, Rolex. Sementara pemain internasional seperti Ivar Jenner di sini hanya bermain untuk Jong Utrecht,” kata Nainggolan dalam wawancara tersebut. 

Pernyataan itu menunjukkan bahwa penyesalan Nainggolan tidak hanya berkaitan dengan kesempatan bermain untuk sebuah tim nasional. Ia juga melihat adanya potensi popularitas, dukungan komersial, dan peluang membangun masa depan setelah pensiun yang mungkin dapat ia manfaatkan apabila memilih Indonesia.

“Ketika itu, saya tidak memikirkannya. Namun, sekarang saya berusia 38 tahun dan melihat semuanya secara berbeda,” ungkapnya. 

Nainggolan kemudian mengaitkan penyesalannya dengan perjalanan internasional bersama Belgia yang menurutnya tidak berakhir sesuai harapan. Meski pernah menjadi bagian dari generasi pemain Belgia yang memiliki kualitas tinggi, kariernya bersama tim nasional tidak berlangsung selama yang mungkin ia inginkan.

Ia secara khusus menyinggung periode ketika Roberto Martínez menangani timnas Belgia. Nainggolan menilai perjalanan internasionalnya berakhir dengan cara yang mengecewakan, sehingga ia kini membayangkan skenario berbeda apabila sejak awal memilih memperkuat Indonesia.

“Terutama ketika saya melihat karier internasional saya di sini, dan bagaimana karier itu berakhir di bawah asuhan Martinez. Saya bisa saja memiliki karier selama lima belas tahun sebagai pemain tim nasional Indonesia,” tuturnya. 

Nainggolan memang memiliki rekam jejak panjang di sepak bola Eropa. Ia pernah memperkuat sejumlah klub Italia, termasuk Cagliari, AS Roma, dan Inter Milan. Di AS Roma, ia dikenal sebagai gelandang dengan karakter permainan agresif, kemampuan merebut bola, serta kontribusi dalam membangun serangan. Ia juga sempat membela tim nasional Belgia pada periode 2009–2018 dan tampil di Piala Eropa 2016. 

Meski memiliki pengalaman di level klub dan internasional, Nainggolan tidak pernah memperkuat Timnas Indonesia dalam pertandingan resmi. Ia akhirnya memilih Belgia, negara tempat ia lahir dan berkembang sebagai pesepak bola profesional, meskipun memiliki garis keturunan Indonesia dari sang ayah.

Kesempatan Nainggolan merasakan sepak bola Indonesia datang pada akhir 2023. Saat itu, ia awalnya berkunjung ke Tanah Air sebagai duta Piala Dunia U-17 2023. Dalam kunjungan tersebut, ia bertemu dengan berbagai pihak di lingkungan sepak bola Indonesia sebelum akhirnya menerima tawaran untuk bermain bersama Bhayangkara FC.

Nainggolan sempat mempertimbangkan untuk mengakhiri kariernya setelah meninggalkan SPAL di Italia dan beberapa bulan tidak memiliki klub. Namun, kesempatan bermain di Indonesia membuatnya kembali tertarik melanjutkan perjalanan sebagai pemain profesional. Ia kemudian menandatangani kontrak dengan Bhayangkara FC pada November 2023. 

Pengalaman itu memberinya kesempatan melihat lebih dekat besarnya perhatian masyarakat Indonesia terhadap sepak bola. Ia juga merasakan bagaimana kehadiran pemain yang memiliki nama besar di Eropa dapat menarik perhatian suporter dan media. Pengalaman tersebut menjadi salah satu faktor yang membuatnya menilai kembali pilihan karier internasional yang pernah diambilnya.

Meski demikian, pernyataan Nainggolan merupakan refleksi pribadi berdasarkan pengalaman dan sudut pandangnya saat ini. Anggapannya bahwa ia dapat menjalani karier selama 15 tahun bersama Timnas Indonesia merupakan skenario hipotetis, bukan sesuatu yang dapat dipastikan akan terjadi. Kesempatan membela sebuah tim nasional tetap bergantung pada berbagai faktor, termasuk kelayakan berdasarkan aturan, keputusan pemain, kebutuhan tim, dan pemilihan pelatih.

Pengakuan Nainggolan kembali menghidupkan pembicaraan mengenai besarnya daya tarik sepak bola Indonesia di mata pemain berdarah Indonesia yang berkarier di luar negeri. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap pemain keturunan juga semakin besar seiring upaya memperkuat kualitas skuad nasional.

Bagi Nainggolan, pengalaman di Indonesia tampaknya memberikan perspektif baru tentang arti membela tim nasional. Ia kini melihat bahwa karier internasional tidak hanya berkaitan dengan level kompetisi dan prestasi olahraga, tetapi juga pengalaman bersama suporter, hubungan dengan masyarakat, serta peluang yang dapat terbuka setelah karier bermain berakhir.

Pada akhirnya, penyesalan yang diungkapkan Nainggolan menjadi refleksi atas keputusan yang pernah ia ambil ketika berada di puncak karier. Ia tidak pernah mengenakan seragam Timnas Indonesia dalam pertandingan resmi, tetapi pengalaman bermain di Tanah Air membuatnya menyadari bahwa kesempatan tersebut mungkin memiliki arti yang berbeda dari yang ia bayangkan pada masa lalu.

Tag

Memuat tag berita...