Presiden Prabowo Subianto menyoroti kondisi tutupan hutan di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terus mengalami pengurangan. Menurut Prabowo, salah satu faktor yang perlu menjadi perhatian adalah kebiasaan masyarakat membuka lahan dengan cara membakar kawasan hutan.
Hal tersebut disampaikan Prabowo dalam rapat koordinasi penanganan gempa bumi NTT di Yonif TP 834/Wakanga Mere, Nagekeo, Rabu (26/8/2026). Dalam kesempatan itu, Presiden juga menyinggung keberadaan sekitar 8.000 hektare lahan yang dialokasikan untuk kegiatan pertanian di wilayah tersebut.
Prabowo mengatakan persoalan pembukaan lahan perlu ditangani melalui edukasi kepada masyarakat. Ia menilai praktik pembakaran untuk membuka lahan baru harus dikurangi karena dapat berdampak terhadap kelestarian hutan dan lingkungan.
Menurut Prabowo, masyarakat perlu mendapatkan pemahaman mengenai cara membuka serta mengelola lahan tanpa menggunakan api. Edukasi tersebut dinilai penting agar kebutuhan masyarakat terhadap lahan pertanian tetap dapat dipenuhi tanpa memperbesar kerusakan kawasan hutan.
Prabowo mengaku memiliki kedekatan dengan NTT sejak usia muda. Pengalaman tersebut membuatnya merasa memahami karakteristik wilayah NTT, termasuk kondisi geografis dan lingkungan yang dihadapi masyarakat.
Dalam penjelasannya, Prabowo juga mengajak melihat persoalan berkurangnya hutan dari sisi sejarah. Ia menyebut kawasan NTT pada masa lalu memiliki tutupan hutan yang jauh lebih lebat dibandingkan kondisi saat ini.
Presiden mengatakan, sekitar 100 hingga 200 tahun lalu, sejumlah wilayah di NTT masih ditutupi hutan yang lebat. Perubahan kondisi tersebut, menurutnya, menjadi gambaran panjang mengenai perubahan lingkungan yang berlangsung selama beberapa generasi.
Prabowo kemudian mengaitkan sejarah kawasan tersebut dengan kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Ia menyebut Portugis dan Spanyol pernah datang ke wilayah NTT berabad-abad lalu dengan kepentingan mencari kayu yang digunakan sebagai bahan pembuatan kapal.
Kayu pada masa tersebut memiliki nilai strategis karena menjadi salah satu bahan penting dalam pembangunan kapal, termasuk kapal yang digunakan untuk mendukung kekuatan angkatan laut. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari sejarah panjang pemanfaatan sumber daya alam di kawasan NTT.
Meski demikian, persoalan tutupan hutan saat ini tidak hanya berkaitan dengan sejarah pemanfaatan kayu. Perubahan penggunaan lahan dan praktik pembukaan lahan juga menjadi tantangan yang perlu diperhatikan secara serius.
Kondisi geografis NTT yang relatif kering membuat pengelolaan lahan dan hutan memiliki tantangan tersendiri. Ketika vegetasi berkurang dan penggunaan api tidak terkendali, risiko kebakaran lahan dapat meningkat, terutama ketika kondisi cuaca mendukung penyebaran api.
Karena itu, edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan pertanian dan perlindungan lingkungan. Masyarakat tetap membutuhkan lahan untuk menopang kehidupan, tetapi proses pembukaannya perlu dilakukan dengan cara yang tidak merusak ekosistem.
Keberadaan sekitar 8.000 hektare lahan pertanian yang disinggung Presiden juga menunjukkan besarnya kebutuhan terhadap pengelolaan lahan secara terencana. Pengembangan pertanian perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga kawasan yang masih memiliki fungsi ekologis penting.
Tutupan hutan memiliki peran penting dalam menjaga tata air, mencegah erosi, mempertahankan kesuburan tanah, serta menyediakan habitat bagi berbagai jenis satwa. Berkurangnya hutan dalam skala luas dapat meningkatkan kerentanan lingkungan terhadap berbagai bencana dan perubahan iklim.
Persoalan tersebut menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya kejadian cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah Indonesia. Kerusakan lingkungan dapat memperbesar risiko ketika masyarakat menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu.
Karena itu, upaya mempertahankan tutupan hutan tidak dapat hanya mengandalkan larangan. Pemerintah juga perlu memastikan masyarakat memiliki alternatif teknik pembukaan lahan yang aman, terjangkau, dan sesuai dengan kondisi setempat.
Pendekatan edukasi dan pendampingan dapat menjadi salah satu cara untuk mengubah kebiasaan membuka lahan dengan pembakaran. Dengan metode yang tepat, kebutuhan masyarakat terhadap lahan produktif dapat tetap dipenuhi tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan.
Pernyataan Prabowo di Nagekeo sekaligus menempatkan persoalan hutan NTT dalam konteks yang lebih luas. Kondisi hutan hari ini merupakan hasil dari perubahan yang berlangsung dalam waktu panjang, sementara keputusan pengelolaan lahan yang dilakukan saat ini akan menentukan kondisi lingkungan bagi generasi berikutnya.
Di tengah kebutuhan memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan produktivitas pertanian, pemerintah menghadapi tantangan untuk memastikan ekspansi lahan tidak berjalan dengan mengorbankan hutan. Keseimbangan antara kepentingan ekonomi masyarakat dan kelestarian lingkungan menjadi bagian penting dari pembangunan berkelanjutan.
Sorotan Presiden terhadap kebiasaan pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan di NTT membutuhkan penanganan dari hulu. Tidak cukup hanya memadamkan api ketika kebakaran terjadi, tetapi juga mencegah munculnya sumber api dan memperbaiki tata kelola lahan.
Dengan edukasi, pengawasan, serta dukungan terhadap masyarakat, pembukaan lahan diharapkan dapat dilakukan secara lebih aman dan berkelanjutan. Pada saat yang sama, kawasan hutan yang tersisa perlu dijaga agar tidak terus mengalami tekanan.
Pesan tersebut menjadi semakin penting bagi NTT, wilayah yang memiliki karakter alam berbeda dengan sebagian besar kawasan Indonesia lainnya. Menjaga hutan berarti menjaga sumber daya air, tanah, keanekaragaman hayati, sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan dan ancaman bencana di masa mendatang.