London, 18 Juli 2026 – Kontroversi politik merembes ke lapangan hijau Piala Dunia. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mendukung usulan agar FIFA menyelidiki aksi para pemain Tim Tango Argentina yang membentangkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” (Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina) usai mengalahkan Inggris di semifinal Piala Dunia pada Kamis (16/7).
“Las Malvinas” merupakan sebutan Argentina untuk Kepulauan Falkland, wilayah di Atlantik Selatan yang hingga kini masih menjadi sengketa panjang antara Argentina dan Inggris. Aksi para pemain Argentina itu langsung menuai reaksi keras dari pemerintah Inggris.
Mengutip The Guardian
“Sikap kami tidak berubah. Hak untuk menentukan nasib sendiri berada di tangan penduduk kepulauan tersebut, dan komitmen kami terhadap Falkland tidak akan pernah goyah,” tegas juru bicara Perdana Menteri Keir Starmer.
Pemerintah Inggris menegaskan bahwa keputusan mengenai kemungkinan sanksi terhadap pemain atau tim Argentina sepenuhnya menjadi kewenangan FIFA. Namun, sejak awal mereka berpendapat bahwa politik seharusnya tidak dibawa ke dalam dunia sepak bola.
Kepulauan Falkland (Malvinas) pernah menjadi medan perang pada tahun 1982 ketika Argentina menginvasi wilayah tersebut, yang kemudian berhasil direbut kembali oleh pasukan Inggris. Hingga kini, Argentina tetap mengklaim kedaulatan atas kepulauan itu, sementara Inggris menjamin hak penentuan nasib sendiri bagi penduduk Falkland yang mayoritas ingin tetap menjadi bagian dari Kerajaan Inggris.
Aksi spanduk di semifinal Piala Dunia ini pun menuai polemik. Banyak pihak di Inggris menilai hal tersebut sebagai provokasi politik yang tidak pada tempatnya dalam ajang olahraga, sementara di Argentina aksi tersebut mendapat dukungan luas sebagai bentuk pernyataan nasionalisme.
Hingga berita ini diturunkan, FIFA belum memberikan respons resmi terhadap permintaan penyelidikan dari pihak Inggris. Dunia sepak bola internasional kini menanti keputusan resmi federasi tersebut, yang berpotensi memengaruhi jalannya final Piala Dunia.
Kasus ini kembali menunjukkan betapa olahraga, khususnya sepak bola, sering kali tak terpisahkan dari isu geopolitik dan nasionalisme yang sensitif.

