Memuat berita

Luas Karhutla di Jambi Capai 1.879 Hektare, Pemadaman Diperkuat Jelang Puncak Kemarau

04 September 2026
30

JAMBI – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi terus menjadi perhatian seiring meningkatnya ancaman kebakaran memasuki puncak musim kemarau. Hingga Kamis, 3 September 2026, luas lahan yang terbakar di wilayah tersebut tercatat mencapai 1.879,31 hektare. Pada hari yang sama, estimasi area yang terbakar mencapai 47,5 hektare. Dari luasan tersebut, petugas berhasil melakukan pemadaman terhadap 37 hektare lahan, sementara 11,5 hektare lainnya masih dalam proses penanganan. Kondisi tersebut mendorong pemerintah dan satuan tugas (satgas) penanganan karhutla untuk terus memperkuat upaya pengendalian di sejumlah wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Penanganan dilakukan secara terpadu dengan mengerahkan personel satgas darat serta dukungan operasi udara. Langkah ini dinilai penting mengingat musim kemarau masih berlangsung dan puncaknya diprediksi terjadi pada September 2026. Satgas darat terus mengoptimalkan pemadaman api di lokasi yang terbakar. Setelah api berhasil dikendalikan, petugas juga melakukan pendinginan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali muncul. Pendinginan menjadi salah satu tahapan penting dalam penanganan karhutla, terutama pada wilayah dengan kondisi lahan yang mudah terbakar. Bara api yang tersisa di dalam tanah dapat kembali memicu kebakaran apabila tidak ditangani secara menyeluruh. Selain pemadaman dan pendinginan, petugas juga melakukan pembuatan sekat bakar. Upaya ini dilakukan untuk membatasi pergerakan api sehingga kebakaran tidak semakin meluas ke area lain.

Wilayah dengan karakteristik lahan gambut menjadi salah satu perhatian utama dalam penanganan karhutla di Jambi. Lahan gambut yang mengering selama musim kemarau memiliki tingkat kerawanan kebakaran yang tinggi dan dapat menyulitkan proses pemadaman. Karena itu, pengerahan sumber daya dilakukan secara lebih intensif di kawasan yang memiliki potensi penyebaran api maupun lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Selain mengandalkan personel di lapangan, penanganan karhutla juga diperkuat dengan pengerahan helikopter untuk operasi water bombing. Melalui metode tersebut, air dijatuhkan dari udara ke titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau atau membutuhkan penanganan cepat. Operasi udara menjadi bagian dari strategi untuk membantu mempercepat pengendalian api sekaligus mencegah kebakaran meluas.

Ancaman karhutla diperkirakan masih tinggi sepanjang September 2026. Kondisi cuaca yang lebih kering dapat menyebabkan vegetasi dan lahan kehilangan kelembapan sehingga lebih mudah terbakar. Situasi tersebut membuat upaya pencegahan dan penanganan harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya setelah api muncul. Selain pemadaman, pengawasan terhadap wilayah rawan menjadi bagian penting untuk mendeteksi kemunculan titik api sedini mungkin. Respons cepat diperlukan agar kebakaran tidak berkembang menjadi lebih besar dan sulit dikendalikan.

Dengan luas lahan terbakar yang telah mencapai lebih dari 1.800 hektare, penanganan karhutla di Jambi membutuhkan koordinasi berbagai pihak. Satgas darat, tim udara, pemerintah daerah, serta masyarakat memiliki peran dalam mencegah meluasnya kebakaran. Upaya pencegahan juga menjadi penting untuk mengurangi dampak karhutla terhadap lingkungan dan masyarakat. Asap kebakaran dapat mengganggu kualitas udara, jarak pandang, aktivitas masyarakat, serta berpotensi menimbulkan dampak kesehatan. Memasuki periode puncak kemarau, intensifikasi pemadaman, pendinginan, pembuatan sekat bakar, hingga water bombing menjadi langkah yang terus dilakukan untuk menekan risiko meluasnya karhutla di Jambi. Dengan kondisi lahan yang semakin kering, kewaspadaan diharapkan tetap ditingkatkan. Setiap titik api perlu segera ditangani agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

Tag

Memuat tag berita...