Kapten Kapal Tanker MT Honour, Ashari Samadikun, menyampaikan permohonan maaf yang mendalam. Ucapan tersebut ditujukan kepada keluarga lima Anak Buah Kapal yang gugur dalam insiden penyanderaan. Peristiwa tragis itu terjadi di perairan Somalia sejak April 2026. Kesedihan dan rasa tanggung jawab terpancar dari pernyataannya. Ashari Samadikun tak kuasa menahan emosi saat menyampaikan pernyataan. Ia merasa sedih dan kecewa karena tidak mampu membawa seluruh awak kapal pulang dengan selamat. Sebagai nakhoda, ia memikul beban moral yang berat. Kegagalan melindungi seluruh anak buah menjadi penyesalan yang mendalam.
Kapten yang berasal dari Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, itu berbicara dengan penuh haru. Ia menyadari bahwa lima nyawa tidak dapat kembali. Permohonan maaf menjadi satu-satunya hal yang dapat ia sampaikan kepada keluarga korban. Rasa tanggung jawab sebagai pemimpin kapal terasa sangat kuat. Kapal tanker MT Honour 25 menjadi sasaran serangan perompak di perairan Somalia. Insiden pembajakan terjadi pada April 2026. Saat itu, kapal sedang dalam perjalanan dengan muatan. Perompak berhasil menguasai kapal dan menyandera seluruh awak.
Total terdapat 17 Anak Buah Kapal yang berada di atas MT Honour 25. Dari jumlah tersebut, empat di antaranya merupakan warga negara Indonesia. Keempat ABK WNI berhasil selamat dari insiden tersebut. Namun, nasib berbeda menimpa rekan-rekan mereka yang berasal dari negara lain. Lima Anak Buah Kapal warga negara asing dinyatakan meninggal dunia. Mereka gugur dalam proses penyanderaan dan upaya pembebasan yang berlangsung tegang. Kehilangan lima nyawa menjadi duka mendalam bagi seluruh pihak. Keluarga di negara asal korban pastinya diliputi kesedihan.
Ashari Samadikun sebagai kapten merasa bertanggung jawab atas keselamatan seluruh awak. Ketika sebagian anak buahnya tidak dapat kembali, ia memilih untuk meminta maaf. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga yang ditinggalkan. Kejujuran emosinya terlihat jelas. Rasa kecewa yang dirasakan kapten berasal dari ketidakmampuan melindungi seluruh kru. Dalam situasi sandera oleh perompak, opsi yang dimiliki nakhoda sangat terbatas. Namun, ia tetap memikul beban moral tersebut. Permohonan maaf menjadi cara untuk mengungkapkan penyesalan yang tulus.
Keempat ABK WNI yang selamat kini telah dalam proses pemulangan. Pemerintah Indonesia turun tangan untuk mengawal proses repatriasi. Sementara itu, lima ABK WNA yang gugur meninggalkan duka di negara masing-masing. Kapten Ashari merasa turut berkabung atas kepergian mereka. Insiden di Somalia mengingatkan akan bahaya di jalur pelayaran Tanduk Afrika. Perompakan masih menjadi ancaman nyata bagi kapal-kapal niaga. MT Honour 25 menjadi salah satu korban dalam deretan panjang insiden serupa. Keselamatan awak kapal harus menjadi prioritas utama.
Ashari Samadikun yang berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan, menunjukkan sisi kemanusiaan seorang nakhoda. Ia tidak bersembunyi di balik prosedur atau alasan teknis. Sebaliknya, ia memilih menyampaikan maaf secara terbuka kepada keluarga korban. Sikap tersebut patut diapresiasi di tengah duka. Proses penyanderaan yang berlangsung sejak April hingga pembebasan akhir September menyisakan luka. Lima ABK tidak pernah kembali kepada keluarga mereka. Kapten kapal harus hidup dengan kenyataan tersebut. Permohonan maaf menjadi bagian dari proses penerimaan atas tragedi yang terjadi.
Seluruh awak yang selamat, termasuk empat WNI, pastinya membawa trauma tersendiri. Pengalaman disandera perompak selama berbulan-bulan bukanlah hal yang mudah dilupakan. Dukungan psikologis menjadi penting bagi mereka yang berhasil kembali. Pemerintah dan perusahaan pelayaran memiliki tanggung jawab lanjutan. Dengan menyampaikan permohonan maaf, Ashari Samadikun menutup salah satu babak kelam dalam pelayarannya. Ia mengakui keterbatasan dirinya sebagai kapten di tengah situasi ekstrem. Lima nyawa yang hilang menjadi pengingat abadi. Keluarga korban berhak mendapatkan penghormatan dan penjelasan.