Gelaran Formula 1 (F1) Singapore Grand Prix 2026 di Sirkuit Marina Bay, Singapura, berlangsung di tengah ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia. Polusi udara yang memburuk menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu aktivitas luar ruangan, kenyamanan penonton, serta rangkaian hiburan yang menyertai ajang balap internasional tersebut.
Singapore Grand Prix dijadwalkan berlangsung pada 9–11 Oktober 2026. Menjelang akhir pekan balapan, kualitas udara di Singapura dilaporkan memburuk hingga masuk kategori tidak sehat, bahkan sempat tercatat sebagai salah satu yang terburuk di dunia berdasarkan pemantauan IQAir pada Rabu (7/10). Kabut asap yang menyelimuti kawasan itu dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang berlangsung selama beberapa waktu terakhir.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap penyelenggaraan salah satu agenda olahraga dan hiburan terbesar di Singapura. Namun, Federasi Otomotif Internasional (FIA) menyatakan balapan F1 tetap direncanakan berlangsung sesuai jadwal. Apabila kualitas udara semakin memburuk, pembatasan dapat diberlakukan terhadap kegiatan hiburan dan aktivitas luar ruangan di sekitar lokasi acara. Pihak penyelenggara dan otoritas setempat terus memantau kondisi udara serta menyiapkan langkah antisipasi.
Situasi ini kembali menyoroti dampak karhutla yang tidak hanya dirasakan masyarakat di wilayah terdampak kebakaran, tetapi juga dapat meluas hingga negara tetangga. Asap yang terbawa angin melintasi perbatasan menjadi persoalan lingkungan regional karena berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, menurunkan jarak pandang, serta memengaruhi berbagai aktivitas ekonomi dan sosial.
Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki mengatakan pemerintah Indonesia terus memperkuat penanganan karhutla melalui pemadaman langsung di lapangan. Kementerian Kehutanan mengerahkan personel Manggala Agni dan menempatkan bantuan personel polisi kehutanan dari berbagai wilayah ke enam provinsi yang dinilai rawan kebakaran.
“Memang yang sekarang harus dilakukan ada di lapangan, memperkuat pasukan darat. Kalau di Kementerian Kehutanan ada Manggala Agni, kita juga BKO-kan polisi kehutanan dari seluruh Indonesia ke enam provinsi rawan karhutla, terutama Kalbar, Kalteng, Kalsel, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan,” kata Rohmat.
Enam provinsi tersebut meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Pengerahan personel dilakukan untuk memperkuat upaya pemadaman di wilayah yang berisiko mengalami kebakaran, sekaligus menekan penyebaran api agar tidak meluas dan menghasilkan asap dalam jumlah lebih besar.
Menurut Rohmat, penanganan karhutla membutuhkan tindakan langsung dan koordinasi antarpihak. Penguatan personel darat menjadi salah satu langkah penting untuk menjangkau titik-titik kebakaran, terutama di kawasan yang sulit diakses dan memerlukan penanganan intensif.
Selain langkah teknis di lapangan, pemerintah Indonesia juga menempuh jalur diplomasi untuk menangani persoalan kabut asap lintas negara atau transboundary haze. Rohmat menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah berkomunikasi dengan para pemimpin negara tetangga, terutama Singapura dan Malaysia, untuk memperkuat kerja sama dalam penanganan karhutla.
Komunikasi tersebut dinilai penting karena dampak kabut asap tidak berhenti di batas wilayah administrasi suatu negara. Kerja sama regional dibutuhkan untuk memperkuat pertukaran informasi, koordinasi penanganan kebakaran, serta upaya pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim rawan kebakaran.
Persoalan karhutla sendiri tidak dapat diselesaikan hanya dengan memadamkan api ketika kebakaran sudah terjadi. Pencegahan melalui pengawasan kawasan rawan, perlindungan ekosistem gambut, kesiapsiagaan personel, serta penegakan hukum terhadap pelanggaran yang terbukti turut menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko kebakaran.
Kabut asap yang mencapai Singapura juga memperlihatkan bagaimana persoalan lingkungan di satu negara dapat membawa konsekuensi bagi negara lain. Ketika kualitas udara memburuk, dampaknya dapat dirasakan masyarakat luas, termasuk anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan yang lebih rentan terhadap paparan polusi.
Di tengah berlangsungnya Singapore Grand Prix, perhatian publik kini tertuju pada perkembangan kualitas udara dan efektivitas penanganan karhutla di Indonesia. Meski balapan utama tetap dijadwalkan berjalan, kondisi kabut asap menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan dapat menjangkau berbagai sektor, mulai dari kesehatan masyarakat hingga penyelenggaraan kegiatan internasional.
Pemerintah Indonesia diharapkan terus memperkuat pemadaman dan pencegahan di enam provinsi rawan, sekaligus menjaga komunikasi dengan negara-negara tetangga. Langkah tersebut menjadi penting agar kebakaran tidak semakin meluas dan risiko kabut asap lintas batas dapat ditekan, sehingga masyarakat di Indonesia maupun kawasan sekitarnya dapat kembali menikmati kualitas udara yang lebih baik.