Kasus influenza tengah menunjukkan peningkatan di Indonesia. Data surveilans Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga 19 September 2026 mencatat proporsi influenza meningkat menjadi 46 persen, dari 35 persen pada pekan sebelumnya. Kelompok anak usia 0–4 tahun menjadi kelompok usia yang paling banyak ditemukan dalam kasus influenza yang terdeteksi.
Kenaikan tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi orang tua yang memiliki balita maupun keluarga dengan anggota yang masuk kelompok rentan. Meski demikian, peningkatan aktivitas influenza yang terpantau pemerintah tidak serta-merta berarti sedang terjadi kondisi luar biasa. Kemenkes tetap melakukan pemantauan untuk melihat perkembangan kasus dan tingkat keparahan dari waktu ke waktu.
Dalam laporan pekan ke-36, dari 63 spesimen yang diperiksa pada rumah sakit sentinel, ditemukan 20 kasus positif influenza. Sebanyak 16 kasus merupakan influenza A(H1N1pdm09), tiga kasus influenza A(H3), dan satu kasus influenza B Victoria. Tidak ditemukan pasien influenza yang membutuhkan perawatan di ruang ICU dalam pemantauan tersebut.
Sebelumnya, pada pekan ke-35, proporsi influenza juga telah meningkat dari 22 persen menjadi 38 persen. Saat itu, 33 persen kasus influenza yang terdeteksi berasal dari kelompok usia 0–4 tahun. Data terbaru menunjukkan proporsi tersebut kembali meningkat menjadi 42 persen, sekaligus mempertahankan anak usia dini sebagai kelompok dengan temuan kasus terbanyak.
Kemenkes memantau influenza melalui jaringan fasilitas kesehatan sentinel yang terdiri atas 39 puskesmas, 35 rumah sakit, dan 14 Balai Karantina Kesehatan. Sistem ini digunakan untuk melihat tren penyakit, karakteristik virus, tingkat positif pemeriksaan, hingga kondisi pasien yang membutuhkan perawatan.
Influenza merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan yang dapat menyebar melalui percikan ketika seseorang yang terinfeksi batuk atau bersin serta melalui tangan atau permukaan yang terkontaminasi. Pada sebagian besar orang, infeksi dapat membaik dengan perawatan yang sesuai, tetapi kelompok tertentu dapat menghadapi risiko komplikasi lebih tinggi.
Karena itu, peningkatan kasus di tengah masyarakat tidak perlu disikapi dengan kepanikan, tetapi juga tidak boleh diabaikan. Terlebih, anak-anak usia dini menjadi kelompok yang paling banyak ditemukan dalam data surveilans terbaru.
Langkah pencegahan sebenarnya cukup sederhana. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer dapat membantu mengurangi risiko penularan, terutama setelah menyentuh benda di tempat umum dan sebelum makan. Kemenkes juga menganjurkan masyarakat menjaga perilaku hidup bersih dan sehat dalam aktivitas sehari-hari.
Etika batuk dan bersin juga perlu diperhatikan. Tutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin, kemudian segera membersihkan tangan. Kebiasaan tersebut penting agar percikan dari saluran pernapasan tidak mudah menyebar kepada orang di sekitar.
Penggunaan masker juga kembali menjadi salah satu langkah yang dianjurkan, terutama ketika seseorang sedang mengalami batuk, pilek, atau demam, maupun ketika berada di tengah kerumunan. Kemenkes juga mengimbau orang yang mengalami gejala flu untuk tetap berada di rumah agar risiko menularkan penyakit kepada orang lain dapat ditekan.
Bagi orang tua, perubahan kondisi anak perlu diperhatikan. Anak yang mengalami demam, batuk, pilek, tubuh lemas, atau mengalami penurunan aktivitas sebaiknya dipantau secara berkala. Apabila kondisi memburuk atau gejala tidak membaik dalam waktu lebih dari tiga hari, Kemenkes menganjurkan segera mengakses fasilitas pelayanan kesehatan.
Menjaga daya tahan tubuh juga menjadi bagian dari pencegahan. Pola makan yang baik, tidur yang cukup, aktivitas fisik sesuai kemampuan, serta menjaga kondisi tubuh tetap optimal dapat membantu menghadapi infeksi saluran pernapasan.
Kemenkes juga mencantumkan vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta. Vaksinasi tidak menghilangkan seluruh kemungkinan infeksi, tetapi merupakan salah satu langkah pencegahan yang direkomendasikan bagi kelompok rentan.
Yang tidak kalah penting adalah membedakan antara meningkatnya aktivitas influenza dengan munculnya wabah luar biasa. Data Kemenkes terbaru memang menunjukkan kenaikan proporsi influenza, tetapi laporan surveilans masih mencatat indikator yang perlu dipantau secara berkala dan belum menunjukkan adanya pasien influenza yang dirawat di ICU pada pekan pemantauan tersebut.
Kondisi itu menunjukkan bahwa masyarakat tetap perlu mengikuti perkembangan informasi berdasarkan data resmi. Peningkatan kasus di satu periode tidak selalu berarti situasi akan terus memburuk, karena aktivitas influenza dapat berubah mengikuti pola musiman dan kondisi lingkungan.
Bagi keluarga dengan balita, kewaspadaan menjadi semakin penting karena kelompok usia 0–4 tahun merupakan kelompok yang paling banyak ditemukan dalam data kasus terbaru. Namun, perhatian tidak berarti harus panik. Langkah yang paling berguna justru kembali pada kebiasaan dasar: menjaga kebersihan, mengurangi kontak ketika sedang sakit, menggunakan masker saat bergejala, dan segera mencari pertolongan medis ketika kondisi memburuk.
Dengan pemantauan melalui jaringan fasilitas kesehatan sentinel, Kemenkes terus mengikuti perubahan tren influenza di Indonesia. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam memutus rantai penularan dengan menerapkan kebiasaan sehat di rumah, sekolah, tempat kerja, maupun ruang publik.
Influenza mungkin terdengar seperti penyakit yang umum, tetapi penularannya dapat meningkat ketika banyak orang melakukan aktivitas bersama dan sebagian mengalami gejala tanpa menyadari dirinya sedang menularkan virus.
Karena itu, di tengah meningkatnya aktivitas influenza saat ini, pesan untuk masyarakat cukup jelas: tidak perlu panik, tetapi jangan lengah. Kenali gejala, jaga kebersihan tangan, terapkan etika batuk dan bersin, gunakan masker ketika sakit, dan pastikan anak serta anggota keluarga mendapatkan perhatian kesehatan yang memadai.
Dengan langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, risiko penularan dapat ditekan sekaligus membantu melindungi kelompok yang lebih rentan terhadap komplikasi influenza.