Memuat berita

Demi Sekolah, Siswa SD Negeri Oelfab Harus Seberangi Sungai Tanpa Jembatan dan Tempuh Jalan Menanjak

26 Agustus 2026
3

Pemandangan tak biasa terjadi saat rombongan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), hendak menuju SD Negeri Oelfab pada Sabtu (22/8/2026). Para siswa sekolah tersebut menyambut kedatangan rombongan dengan yel-yel dari sisi sungai yang harus dilalui karena belum tersedia jembatan.

Momen tersebut terekam dan dibagikan melalui kanal Instagram Milikhiur Tamelab. Dalam unggahannya, disebutkan bahwa para siswa menyambut tamu dari Dinas Pendidikan Kabupaten meski lokasi sekolah masih berjarak sekitar 4 kilometer dari titik tersebut.

"Ini adalah anak-anak SD Negeri Oelfab, almamater saya. Kalau mau ke rumah harus melalui sungai ini," tulis Milikhiur Tamelab dalam unggahannya.

Ia juga menjelaskan bahwa perjalanan menuju sekolah masih harus dilanjutkan dengan melewati jalur yang menanjak. Kondisi geografis tersebut membuat akses menuju SD Negeri Oelfab menjadi tantangan tersendiri bagi siswa, guru, maupun masyarakat yang hendak menuju kawasan sekolah.

"Lokasi sekolah masih 4 kilometer lagi dan jalannya mendaki dan tanjakan," tulisnya.

Bagi para siswa, sungai yang harus dilalui bukan sekadar bagian dari lanskap tempat tinggal mereka. Jalur tersebut menjadi bagian dari perjalanan menuju sekolah dan aktivitas sehari-hari masyarakat di sekitar wilayah tersebut.

Kondisi ini menggambarkan tantangan akses pendidikan yang masih dihadapi masyarakat di sejumlah wilayah terpencil dan memiliki kondisi geografis sulit. Jarak, medan berbukit, serta keterbatasan infrastruktur dapat membuat perjalanan menuju sekolah membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar.

Timor Tengah Utara sendiri dikenal memiliki karakter wilayah yang didominasi daratan bergelombang dan berbukit. Kondisi geografis tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pembangunan infrastruktur, termasuk akses jalan dan jembatan yang menghubungkan permukiman dengan fasilitas pendidikan.

Wilayah TTU juga berada dalam kawasan Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire. Kawasan tersebut merupakan wilayah yang dipengaruhi pertemuan sejumlah lempeng tektonik, termasuk Lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Eurasia.

Secara geologi, TTU berada pada kawasan busur Sunda-Banda bagian luar atau busur geantiklin. Wilayah tersebut membentang dari arah timur ke barat di bagian selatan dan memiliki karakter geologi yang berbeda dari kawasan busur vulkanik yang memiliki banyak gunung api.

Karakter geografis dan geologis tersebut membuat pembangunan infrastruktur di NTT membutuhkan perencanaan yang menyesuaikan kondisi wilayah. Jalan yang melewati kawasan berbukit, sungai, serta medan yang sulit membutuhkan konstruksi dan pemeliharaan yang tidak sederhana.

Di tengah kondisi tersebut, akses menuju sekolah menjadi salah satu aspek penting yang menentukan kemudahan anak-anak memperoleh pendidikan. Infrastruktur seperti jembatan dan jalan yang aman bukan hanya mendukung mobilitas masyarakat, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap keberlangsungan aktivitas belajar.

Perjalanan siswa menuju sekolah seharusnya tidak menjadi hambatan untuk memperoleh pendidikan. Ketika akses harus melewati sungai dan medan terjal, faktor keselamatan juga perlu menjadi perhatian, terutama ketika debit air meningkat akibat hujan.

Momen penyambutan rombongan Dinas Pendidikan oleh para siswa pun menjadi gambaran sederhana mengenai kondisi yang mereka hadapi. Di tengah keterbatasan akses, para siswa tetap menunjukkan antusiasme menyambut kedatangan rombongan pemerintah daerah.

Kedatangan jajaran Dinas Pendidikan juga dapat menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung kondisi sarana dan akses pendidikan di lapangan. Persoalan yang terlihat dari perjalanan menuju sekolah dapat menjadi bahan evaluasi dalam menentukan kebutuhan pembangunan infrastruktur pendidikan di daerah.

Pembangunan akses yang lebih layak diharapkan dapat mempermudah mobilitas siswa dan guru. Selain mempercepat perjalanan, keberadaan jalan dan jembatan yang memadai juga dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat yang setiap hari menggunakan jalur tersebut.

Kondisi SD Negeri Oelfab menjadi pengingat bahwa pemerataan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan keberadaan ruang kelas dan tenaga pendidik. Infrastruktur dasar yang memungkinkan siswa mencapai sekolah dengan aman juga merupakan bagian penting dari ekosistem pendidikan.

Bagi anak-anak di wilayah dengan medan sulit, perjalanan menuju sekolah merupakan bagian dari perjuangan mereka mendapatkan pendidikan. Mereka harus menghadapi kondisi alam dan keterbatasan infrastruktur, tetapi tetap menunjukkan semangat untuk belajar.

Yel-yel yang disampaikan para siswa saat menyambut rombongan Dinas Pendidikan akhirnya menjadi gambaran tentang semangat tersebut. Di balik sambutan yang penuh keceriaan, terdapat realitas mengenai akses pendidikan yang masih membutuhkan perhatian.

Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat memiliki tantangan untuk memastikan pembangunan infrastruktur dapat menjangkau wilayah-wilayah yang sulit. Kondisi geografis tidak seharusnya menjadi alasan terputusnya akses anak-anak terhadap pendidikan yang aman dan layak.

Kisah para siswa SD Negeri Oelfab menunjukkan bahwa pemerataan pendidikan bukan hanya tentang seberapa dekat sekolah dibangun dengan permukiman, tetapi juga tentang seberapa mudah dan aman anak-anak dapat mencapainya. Di wilayah berbukit seperti TTU, pembangunan jalan dan jembatan menjadi bagian penting dari upaya memastikan hak pendidikan dapat dirasakan secara lebih merata.

Tag

Memuat tag berita...