NTT - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 94 warga terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal dunia selama berada di lokasi pengungsian. Jumlah tersebut berbeda dengan 48 orang yang tercatat meninggal dunia akibat dampak langsung gempa. BNPB kemudian melakukan verifikasi dan validasi data bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di tujuh kabupaten terdampak. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa 94 warga yang meninggal selama berada di pengungsian tersebut tidak meninggal akibat trauma fisik langsung maupun tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan, menjelaskan bahwa sebagian besar korban merupakan kelompok rentan, terutama lanjut usia (lansia). Mereka diketahui memiliki riwayat penyakit kronis yang kemudian mengalami komplikasi selama berada dalam kondisi pascabencana.
“Berdasarkan hasil verifikasi dan validasi terpadu antara BNPB dengan Kementerian Kesehatan di tujuh kabupaten terdampak, kami meluruskan bahwa 94 warga tersebut tidak meninggal akibat trauma fisik langsung atau reruntuhan bangunan akibat gempa bumi,” kata Berton, Kamis (17/9/2026).
Berdasarkan data tim medis, penyakit kronis yang dialami sebagian besar korban antara lain stroke dan diabetes melitus. Kondisi tersebut membuat kelompok lansia dengan penyakit penyerta menjadi salah satu kelompok yang membutuhkan perhatian khusus dalam penanganan pascabencana. Dengan demikian, data korban jiwa gempa NTT mencakup 48 orang yang meninggal akibat dampak langsung gempa serta 94 orang yang meninggal ketika berada di pengungsian. BNPB menyebut 94 kematian tersebut merupakan dampak tidak langsung dalam periode penanganan pascabencana, bukan akibat tertimpa bangunan atau mengalami trauma fisik langsung karena guncangan.
Gempa bumi yang melanda NTT tersebut terjadi pada 15 Agustus 2026 dengan kekuatan magnitudo 7,7. Gempa kemudian diikuti ribuan gempa susulan. BNPB mencatat lebih dari 5.000 gempa susulan hingga 21 Agustus, dengan gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2. Di tengah proses pemulihan, pemerintah terus memastikan pelayanan kesehatan bagi para penyintas tetap tersedia. Fasilitas kesehatan dan pos kesehatan terpadu disiagakan untuk memberikan pelayanan kepada warga terdampak, termasuk kelompok lansia dan masyarakat dengan penyakit kronis.
BNPB juga telah mengaktifkan pos dukungan logistik di Labuan Bajo dan Maumere sejak hari pertama penanganan. Bantuan berupa obat-obatan, peralatan medis, serta kebutuhan lainnya terus disalurkan kepada masyarakat yang masih berada di lokasi pengungsian, baik pengungsian terpusat maupun mandiri. Seiring berjalannya proses pemulihan, jumlah pengungsi juga mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan data per 15 September 2026, jumlah warga yang masih mengungsi tercatat sebanyak 46.461 jiwa, turun dari lebih dari 150.000 orang pada periode sebelumnya.
BNPB memastikan pemenuhan kebutuhan dasar dan layanan kesehatan bagi warga yang masih bertahan di pengungsian terus dilakukan. Pemerintah juga melanjutkan pendataan dampak bencana serta pemulihan di sejumlah wilayah terdampak.