Sejak mulai beroperasi pada 2018, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka belum mampu mencapai peran yang semula diharapkan sebagai pintu gerbang utama penerbangan internasional Jawa Barat. Investasi besar yang digelontorkan pemerintah, termasuk pengembangan kawasan Aerocity, belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pertumbuhan konektivitas dan trafik penumpang.
Kini, pemerintah mulai mengarahkan fungsi Kertajati ke jalur yang berbeda. Bandara yang selama ini identik dengan proyek konektivitas udara Jawa Barat tersebut diproyeksikan menjadi bagian penting dari ekosistem pertahanan udara nasional, khususnya dalam mendukung pemeliharaan dan kesiapan armada pesawat militer.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan, Kertajati telah mulai dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan maintenance, repair and overhaul (MRO)
“Ke depan bagaimana pemeliharaan pesawat tempur ini bisa juga kita lakukan secara berdiri sendiri,” kata Sjafrie pada Rabu (20/8/2026), seperti dikutip Antara.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kemampuan industri dan fasilitas pemeliharaan alutsista di dalam negeri. Dengan tersedianya fasilitas MRO yang memadai, kebutuhan perawatan pesawat militer diharapkan tidak selalu bergantung pada fasilitas maupun pihak asing.
Pengembangan Kertajati sebagai pusat teknis pertahanan juga sejalan dengan meningkatnya kebutuhan pemeliharaan armada udara Indonesia. Modernisasi alutsista TNI AU dalam beberapa tahun terakhir membuat kebutuhan terhadap fasilitas perawatan, perbaikan, serta dukungan teknis menjadi semakin penting untuk memastikan pesawat tetap berada dalam kondisi siap operasi.
Selain menjadi lokasi pemeliharaan, Kertajati juga diproyeksikan memiliki fungsi yang lebih strategis sebagai salah satu pangkalan bagi armada udara nasional. Dengan karakteristik infrastrukturnya, bandara tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai fasilitas pendukung operasi dan logistik pertahanan.
Perubahan arah pemanfaatan ini sekaligus menunjukkan bagaimana pemerintah berupaya mencari fungsi strategis baru bagi Kertajati setelah bandara tersebut menghadapi tantangan dalam menarik trafik penerbangan komersial. Selama ini, rendahnya aktivitas penerbangan menjadi salah satu persoalan yang melekat pada perjalanan bandara tersebut.
Alih-alih hanya mengandalkan pertumbuhan penumpang, Kertajati kini berpeluang memainkan peran yang berbeda dalam sistem transportasi dan pertahanan nasional. Infrastruktur yang sebelumnya dibangun untuk memperkuat konektivitas masyarakat dapat dimanfaatkan lebih luas untuk mendukung kesiapan armada udara Indonesia.
Jika rencana tersebut terealisasi, Kertajati tidak lagi hanya dipandang sebagai bandara komersial yang mengejar pertumbuhan penumpang, tetapi juga sebagai salah satu simpul strategis bagi kemandirian pemeliharaan alutsista dan penguatan kemampuan pertahanan udara nasional.