Memuat berita

Bahlil Buka Peluang Beli Minyak Diskon dari Arab Saudi, tetapi Ongkos Kirim Tembus US$33 per Barel

13 Oktober 2026
4

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membuka peluang bagi Indonesia untuk membeli minyak mentah dari Arab Saudi menyusul keputusan Saudi Aramco memberikan harga khusus bagi pasar Asia pada November 2026. Namun, pemerintah belum memastikan akan mengambil kesempatan tersebut karena perlu menghitung efisiensi harga, biaya pengiriman, serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.

Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tidak membatasi sumber impor minyak mentah dari negara tertentu. Menurutnya, keputusan pembelian akan ditentukan berdasarkan keuntungan bagi negara, efisiensi transaksi, dan kepatuhan terhadap aturan.

“Intinya begini. Bagi kita adalah dari mana pun sumber minyaknya, selama itu efisien untuk kebaikan negara, dan tidak melanggar aturan, maka itu akan menjadi prioritas negara,” kata Bahlil di Djakarta Theater, Jakarta, Senin (12/10/2026), seperti dikutip detikFinance.

Pernyataan tersebut muncul setelah Arab Saudi memangkas harga jual resmi minyak mentah untuk pasar Asia pada November. Saudi Aramco menetapkan harga minyak jenis Arab Light sebesar US$5 per barel di bawah rata-rata harga acuan Oman dan Dubai. Harga tersebut turun US$3 per barel dibandingkan bulan sebelumnya dan menjadi tingkat diskon terlebar sejak Juni 2020. 

Penurunan harga itu membuka peluang bagi negara-negara pengimpor minyak di Asia untuk mengevaluasi kembali sumber pasokan mereka. Bagi Indonesia, penawaran tersebut berpotensi menjadi salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan minyak mentah, selama perhitungan biaya keseluruhan menunjukkan keuntungan dibandingkan alternatif pemasok lainnya.

Meski demikian, harga minyak yang lebih murah di tingkat penjual tidak otomatis menjadikan pembelian lebih ekonomis. Biaya pengangkutan, asuransi, ketersediaan kapal tanker, serta jalur pelayaran yang digunakan turut menentukan harga akhir minyak ketika tiba di negara tujuan.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena meningkatnya risiko keamanan di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz. Ketegangan di jalur pelayaran strategis itu telah memengaruhi aktivitas kapal tanker dan mendorong kenaikan biaya pengiriman minyak.

Biaya angkutan minyak dari kawasan Teluk Persia dilaporkan mencapai sekitar US$33 per barel. Angka tersebut membuat potongan harga dari Saudi Aramco perlu dihitung secara cermat, sebab penghematan pada harga minyak mentah berpotensi tergerus oleh tingginya ongkos logistik.

Laporan Reuters pada 12 Oktober 2026 juga menunjukkan bahwa sejumlah pembeli di Asia telah melakukan transaksi minyak mentah Arab Saudi untuk pengiriman November. Sebagian pembelian dilakukan melalui penjualan langsung atau pasar spot, dengan harga yang dipengaruhi oleh tingginya biaya pengangkutan dan kondisi pasar.

Dalam kondisi tersebut, pemerintah Indonesia perlu mempertimbangkan tidak hanya besaran diskon, tetapi juga lokasi pemuatan minyak, rute kapal, waktu pengiriman, dan tingkat risiko selama perjalanan. Penggunaan jalur alternatif di luar Selat Hormuz dapat menjadi salah satu faktor dalam perhitungan, tetapi tetap harus dibandingkan dengan biaya dan persyaratan pengiriman yang tersedia.

Keputusan pembelian juga perlu mempertimbangkan kesesuaian jenis minyak mentah dengan kebutuhan kilang di dalam negeri. Setiap jenis minyak memiliki karakteristik berbeda, sehingga aspek teknis pengolahan dan biaya pemrosesan menjadi bagian penting dalam menilai apakah suatu penawaran benar-benar menguntungkan.

Di sisi lain, diversifikasi sumber impor tetap menjadi salah satu pertimbangan strategis bagi Indonesia. Ketergantungan pada jalur atau pemasok tertentu dapat meningkatkan kerentanan apabila terjadi gangguan pasokan maupun perubahan situasi geopolitik. Karena itu, peluang membeli minyak dari Arab Saudi perlu dinilai dalam konteks kebutuhan energi nasional dan upaya menjaga kelancaran pasokan.

Bagi pemerintah, tantangan utamanya adalah memastikan setiap keputusan pengadaan menghasilkan manfaat nyata bagi negara. Harga yang terlihat lebih rendah harus dibandingkan dengan seluruh komponen biaya hingga minyak diterima dan siap diproses, bukan hanya berdasarkan angka diskon yang diumumkan penjual.

Hingga Senin (12/10/2026), Bahlil belum memberikan kepastian bahwa Indonesia akan membeli minyak mentah Arab Saudi untuk memanfaatkan potongan harga November tersebut. Pemerintah masih membuka peluang dari berbagai negara dan menempatkan efisiensi serta kepatuhan terhadap aturan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Dengan demikian, penawaran Saudi Aramco menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan Indonesia di tengah tingginya biaya pengiriman dan ketidakpastian jalur pelayaran. Keputusan akhir akan bergantung pada hasil perhitungan menyeluruh untuk memastikan bahwa harga minyak, biaya logistik, dan risiko pengiriman benar-benar memberikan keuntungan bagi negara.

Tag

Memuat tag berita...