Sekitar 19 siswa di SMP dan SMK Al-Hadid, Kota Cilegon, Banten, mengalami pedih mata dan sesak napas. Mereka kocar-kacir setelah asap masuk ke lingkungan sekolah. Kejadian terjadi pada Kamis, 8 Oktober 2026. Para siswa yang terdampak kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Asap diduga berasal dari arah Polres Cilegon dan terbawa angin menuju sekolah. Insiden berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB. Jarak antara Polres Cilegon dan sekolah tersebut hanya sekitar 150 meter. Kedekatan lokasi membuat asap dengan mudah mencapai area belajar siswa. Para siswa yang mengalami keluhan segera dievakuasi. Sebagian dibawa ke RS Hermina Cilegon. Sebagian lainnya dilarikan ke RS KM. Penanganan medis dilakukan untuk meredakan pedih mata dan sesak napas yang mereka alami. Kondisi siswa menjadi perhatian pihak sekolah dan orang tua.
Kasi Humas Polres Cilegon AKP Imam Maryono memberikan penjelasan resmi terkait kejadian tersebut. Ia menyatakan bahwa pada saat itu Polres Cilegon sedang melakukan latihan Dalmas. Latihan tersebut bertujuan untuk mengatasi situasi demonstrasi. Dalam latihan itu, petugas menggunakan gas air mata. Imam Maryono menyampaikan permohonan maaf atas dampak yang ditimbulkan.
“Untuk itu, atas nama Polres Cilegon, kami menyampaikan permohonan maaf kepada para siswa yang terkena dampak,” kata Imam, Jumat (9/10/2026).
Selain meminta maaf, Polres Cilegon juga memberikan bantuan. Bantuan tersebut diberikan untuk meringankan beban pengobatan para siswa. Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab. Latihan Dalmas yang menggunakan gas air mata menjadi pemicu masuknya asap ke sekolah. Angin yang bertiup ke arah SMP dan SMK Al-Hadid membawa partikel gas tersebut. Jarak 150 meter ternyata cukup dekat untuk menimbulkan dampak langsung. Siswa yang sedang berada di lingkungan sekolah ikut terdampak. Kejadian ini menimbulkan kepanikan singkat di kalangan siswa. Pedih mata dan sesak napas membuat mereka buru-buru meninggalkan area terbuka. Pihak sekolah segera mengantisipasi dengan mengamankan siswa dan menghubungi fasilitas kesehatan. Evakuasi berjalan relatif cepat.
RS Hermina Cilegon dan RS KM menjadi tempat rujukan para siswa. Pemeriksaan dan perawatan dilakukan untuk memastikan tidak ada komplikasi lebih lanjut. Orang tua siswa turut mendampingi selama proses pengobatan. Kondisi seluruh siswa yang terdampak terus dipantau. Polres Cilegon melalui Kasi Humasnya mengakui bahwa latihan tersebut berdampak pada pihak di luar lokasi. Permohonan maaf disampaikan secara terbuka. Bantuan biaya pengobatan menjadi bentuk konkret tanggung jawab. Pihak kepolisian berharap kejadian serupa tidak terulang. Penggunaan gas air mata dalam latihan di kawasan yang dekat dengan sekolah menjadi catatan penting. Jarak hanya 150 meter membuat risiko terdampaknya warga sipil cukup tinggi. Evaluasi terhadap lokasi dan arah angin saat latihan dinilai perlu dilakukan. Keselamatan masyarakat sekitar harus menjadi pertimbangan.
Imam Maryono menekankan bahwa latihan Dalmas merupakan bagian dari kesiapsiagaan personel. Namun, dampak terhadap siswa tidak diabaikan. Permohonan maaf dan bantuan pengobatan menjadi langkah cepat yang diambil. Komunikasi dengan pihak sekolah dan orang tua terus dilakukan. Sebanyak 19 siswa yang mengalami pedih mata dan sesak napas kini telah mendapatkan perawatan. Bantuan biaya dari Polres Cilegon diharapkan meringankan proses pemulihan. Pihak sekolah juga melakukan pemantauan terhadap kondisi siswa setelah kejadian. Aktivitas belajar diharapkan segera kembali normal.